Pages

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Friday, April 1, 2011

Serangan AS & Sekutu keatas Libya: Munculnya Perang Salib Baru

Serangan AS dan sekutunya ke Libya pada hakikatnya adalah Perang Salib Baru. Meskiberalasan menjalankan resolusi PBB atas zona larangan terbang, AS dan sekutunya, terutama Inggris dan Perancis tidak dapat menyembunyikan kebenaran sesungguhnya bahwa serangan ke Libya adalah perang salib baru. Apa yang harus dilakukan umat Islam ?
Sepuluh tahun Perang Salib Baru

Ahad, 16 September 2001 bertepatan dengan 28/6/1422 Hijriyyah. Presiden AS kala itu, George Walker Bush menyatakan: This crusade, this war on terrorism, is going to take a long time. "Ini adalah perang salib. Ini adalah perang melawan terorisme yang akan memakan waktu lama."

Robert Fisk, Jurnalis senior The Independent London & ahli masalah Timur Tengah mengomentari peryataan Bush kala itu : "Nampaknya Presiden Bush benar-benar yakin bahwa dia tengah memimpin Perang Salib. Beberapa hari yang lalu dia menggunakan istilah ini meskipun dia telah diingatkan."

Syekh Usamah bin Ladin mengatakan : "Bukankah Bush telah mengatakan: Sesungguhnya perang ini adalah perang salib. Dan bukankah ia juga mengatakan: Sesungguhnya perang ini akan memakan waktu yang sangat lama dan menargetkan 60 negara. Bukankah negara-negara Islam itu kurang lebih 60 negara?"

Kurang lebih sepuluh tahun perang salib baru ini berlangsung, dipimpin oleh AS dan sekutu-sekutunya, koalisi yahudi dan nasrani beserta antek-anteknya di seluruh dunia dengan dalih perang melawan terorisme (war on terrorism). Sayangnya, umat Islam banyak yang tidak menyadari dan tidak faham harus bersikap apa. Mereka juga tidak mengerti hakikat perang salib baru tersebut hingga terjadinya serangan AS dan sekutunya ke Libya saat ini.

Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin menyamakan resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang membolehkan penyerangan atas Libya dengan perang salib pada abad pertengahan. Menurut Putin, meskipun Khaddafi, Presiden Libya, gagal menjalankan demokrasi tidak berarti itu menjadi justifikasi intervensi militer atas Libya. Hal ini disampaikan Putin saat berbicara dengan para pekerja di sebuah pabrik rudal Rusia (21/3/2011).

"(Resolusi) itu membolehkan segalanya. Itu serupa dengan seruan Perang Salib pada zaman pertengahan."

Rusia sendiri yang memiliki hak veto di DK PBB memilih abstain dalam pemungutan suara saat itu yang akhirnya mengeluarkan resolusi yang mengesahkan zona larangan terbang serta semua tindakan lain yang diperlukan atas Libya.

Perang salib baru yang sudah sepuluh tahun berjalan akhirnya digelorakan kembali oleh pimpinannya saat ini, Barack "Fir'aun" Obama, dengan digelarnya operasi besar-besaran untuk membunuh umat Islam dan kaum Muslimin di Libya, dengan nama sandi operasi "Odyssey Dawn".


Hakikat Perang Salib

Dr. Muhammad Sayyid Al-Wakil dalam bukunya "Wajah Dunia Islam" menyatakan bahwa dinamakan perang salib karena tentara-tentara kristen menjadikan salib sebagai simbol obsesi suci mereka dan meletakkannya di pundak mereka masing-masing. Urbanus II, Paus pada masa itu, memasang salib di atas lengan para sukarelawan sebagai tanda bahwa perang ini adalah perang suci.

Istilah Crusader berasal dari bahasa latin crux yang berarti kayu salib. Padanannya adalah shalibiyyun dari bahasa Arab shalib yang juga berarti kayu salib. Kedua istilah ini menunjukkan simbol Cross atau kayu salib yang mendasari perang salib yang kemudian dikenal dengan istilah Crusade.

Dr Muhammad Sayyid Al-Wakil mengatakan, penyebab utama meletusnya perang salib adalah kedengkian orang-orang kristen kepada Islam dan umat Islam karena umat Islam berhasil merebut wilayah-wilayah strategis yang tadinya mereka kuasai, membebaskan seorang budak yang mereka tawan dan mengambil kerajaan yang tadinya mereka genggam.

Carole Hillenbrand dalam "Perang Salib" mengatakan Perang Salib, menurut sudut pandang Barat, merupakan serangkaian operasi militer-paling sedikit terdiri atas delapan babak-yang didorong oleh keinginan kaum kristen Eropa untuk menjadikan tempat-tempat suci umat kristen dan terutama Yerusalem masuk ke dalam wilayah perlindungan mereka. Bagi pihak Barat, Perang Salib dimulai tahun 1095, ketika Paus Urbanus II menyerukan maklumat perang sucinya yang terkenal.

Sejak saat itu berlakulah perang salib yang berlangsung selama kira-kira dua abad (490 -669 H/1096 -1270 M). Kemenangan silih berganti antara kaum salib dan umat Islam. Pasukan salib pernah menulis surat kepada Paus mengucapkan selamat atas perbuatan mereka dan berkata : "Jika Paus ingin tahu apa yang kami lakukan terhadap musuh-musuh kami, maka percayalah bahwa di Haikal (istana) Sulaiman dan rumah ibadahnya kuda-kuda kami berjalan di lautan darah kaum Muslimin hingga sampai lututnya, demikian penuturan Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah sebagaimana dikutip oleh Al Wakil.

Fakta-Fakta Perang Salib Baru

As Sahab Media, telah mengeluarkan video berjudul Results of 7 Years of The Crusade yang kemudian diterjemahkan oleh Al Fajr Media menjadi Fakta-Fakta Sewindu Perang Salib. Dalam buku tersebut, Syekh Aiman Ash Zhawahiri mengatakan :

"Kami menghadapi perang salib dan para pemerintah murtad yang menjadi antek mereka. Perang salib ini menyerang agama, akhlak, kekayaan dan keberadaan kita. Jika kita tidak memahami fakta sederhana dan berbahaya ini, maka kita tidak bisa meningkatkan serangan sampai pada tingkatan yang semestinya untuk menghadapi perang salib yang akan datang yang belum pernah disaksikan dalam sejarah Islam sebelumnya. Perang ini adalah perang yang kotor, yang menggunakan semua cara untuk melayani kekaisaran salibis dan yahudi penolong mereka. Dalam perang ini, semua cara dihalalkan, walaupun itu hal yang rendah, hina, keji. Bukan itu saja, bahkan mungkin mempublikasikannya atas nama agama, moral, kebebasan dan HAM."

AS dan sekutu-sekutunya,terutama Inggris dan Perancis membombardir Libya dengan menggunakan tameng resolusi DK PBB. Selain itu, operasi Odyssey Dawn mengatasnamakan rakyat sipil Libya dan para "pejuang" yang anti rezim Khaddafi. Faktanya, serangan AS dan sekutunya membunuhi rakyat sipil, kaum Muslimin di Libya.

Diserangnya Libya oleh AS dan sekutunya memperluas peta perang salib baru. Sebelumnya, sejumlah negara-negara Islam telah menjadi sasaran nyata kebuasan perang salib baru, seperti Afghanistan, Iraq, Pakistan, Chechnya, Al Jazair, Palestina, dan Somalia. Negara-negara Muslim lainnya menyusul untuk dibombardir, sebagaimana ancaman Menteri Luar Negeri Perancis, Juppe Allen.

Perancis, negara sekutu dan anggota NATO ini merupakan negara terdepan dalam perang salib baru, setelah AS dan Inggris. Negara ini (Perancis) sudah terkenal kebenciannya kepada Islam dan kaum Muslimin. Undang-undang Perancis melarang kaum Muslimah di Perancis untuk mengenakan burqa (cadar).

Dalam sebuah konferensi pers, Kamis (24/3/2011), Juppe Allen, mengancam kaum Muslimin di Arab Saudi dan Suriah akan dibombardir dari udara sebagaimana Libya, lapor Al Jazeera. Allen mengatakan bahwa perang salib di Libya harus menjadi contoh bagi Arab Saudi, Suriah dan negara-negara lain. Ia menekankan bahwa serangan terhadap Libya bisa berlangsung selama berhari-hari, berminggu, tapi tidak berbulan-bulan.

Serangan AS dan sekutunya ke Libya, dan peryataan kementrian luar negeri Perancis, Juppe Allen menunjukkan aliansi pasukan perang salib baru telah mendeklarasikan perang salib baru secara massive dan mengancam siapapun untuk bersama mereka atau akan mereka perangi. Tidak ada lagi hukum internasional, PBB, Liga Arab, OKI, Non Blok, melainkan hanya ada aliansi pasukan perang salib baru di satu sisi, dan Islam serta kaum Muslimin di sisi yang lain.

Gulingkan Ghaddafi, Tegakkan Syariat Islam

Tidak bisa dipungkiri, diantara gerakan-gerakan Islam di dunia yang mampu menggoncangkan dan menakutkan aliansi pasukan salib baru adalah Al Qaeda. Amerika sendiri mencap Al Qaeda sebagai organisasi teroris, karena Al Qaeda betul-betul mampu menghancurkan Amerika dan menebar teror di tengah-tengah rakyat Amerika yang saat ini sebagai satu-satunya negara super power dunia.

Syekh Usamah bin Ladin, pemimpin tertinggi Al Qaeda bersumpah : "Demi jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, yang mengangkat langit tanpa tiang. Sungguh, janganlah Amerika dan orang-orang yang berada di dalamnya bermimpi untuk hidup tenang hingga saudara-saudara kami yang berada di Palestina dapat hidup tenang."

Apa yang harus dilakukan umat Islam menghadapi perang salib baru? Pimpinan Al Qaeda Libya, Syekh Abu Yahya Al-Libi menyerukan kepada umat Islam di Libya untuk menggulingkan rezim Khaddafi dan mendirikan pemerintahan Islam. Hal ini sebagaimana dilaporkan oleh Ummah News mengutip Associated Press.

Beliau mengatakan dalam video terbarunya bahwa setelah jatuhnya rezim di Tunisia dan Mesir, kini giliran Khaddafi yang harus turun, saat pejuang pemberontakan menekan hampir selama satu bulan untuk sebuah kampanye pengusiran Khaddafi.

Beliau menyebut pemerintah nasional otokratis Arab-musuh Islam-mempraktekkan jenis terburuk dari penindasan dengan dukungan Barat dan telah gagal mengambil pelajaran dari sejarah, ujarnya.

"Sekarang giliran Khadaffi setelah ia membuat rakyat Libya menderita selama lebih dari 40 tahun," lanjut Syekh Abu Yahya, menambahkan bahwa itu akan membuat malu rakyat Libya jika tiran diizinkan untuk mati secara damai.

Sebelumnya, Abdel Hakim al-Hasidi, pemimpin pemberontak Libya mengakui hubungannya dengan Al Qaeda. Beliau mengatakan jihadis yang berjuang melawan tentara sekutu di Irak berada di garis depan pertempuran melawan rezim murtad Muammad Khaddafi.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Italia Il Sole 24 Ore, al-Hasidi mengakui bahwa ia telah merekrut "sekitar 25″ orang-orang dari daerah Derna di Libya timur untuk memerangi pasukan koalisi di Irak. Beberapa dari mereka, katanya, adalah "hari ini di garis depan dalam Adjabiya".

Dalam Fakta-Fakta Sewindu Perang Salib Baru, disebutkan bahwa perang melawan barat mengharuskan untuk perang melawan Negara murtad. DR. Abdullah An Nafisi menyebutkan: "Saya yakin bahwa rezim Saudi sekarang menjadi tongkat pemukul di tangan Amerika, tidak terkecuali. Ini bukan rezim sendiri, tapi ini kepanjangan tangan Amerika dalam menguasai Kawasan Teluk. Dan jika kita serang pengaruh Amerika dengan kekuatan, baik melalui perlawanan atau dengan cara yang mereka sebut "Teror", maka saya yakin bahwa rezim ini akan segera jatuh."

Syekh Abu Yahya Al-Liby mengatakan mengusir rezim Arab yang didukung Barat merupakan "satu langkah untuk mencapai setiap tujuan Muslim yang ingin membuat firman Allah sebagai yang tertinggi" dan mendirikan pemerintahan Islam. Beliau juga mendesak untuk tidak lagi melihat ke negara-negara Barat, tidak untuk mencari bantuan ke mereka dan pergi dengan cara sendiri. "Kita harus menyingkirkan rasa rendah diri kita dan membebaskan diri dari Barat," tutupnya.

http://arrahmah.com/read/2011/03/30/11657-serangan-as-sekutu-ke-libya-perang-salib-baru.html#ixzz1I3fhjDGh
Read More...

Friday, January 21, 2011

Persamaan Syi'ah Dengan Yahudi Dan Nasrani

Dalam shalat, kita senantiasa memohon kepada Allah agar dikaruniakan hidayah atau petunjuk kepada Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus). Sebuah permohonan yang paling penting dan sangat dibutuhkan oleh seorang hamba. Karenanya, seorang hamba diwajibkan berdoa kepada Allah memohon hidayah ini pada setiap rakaat dalam shalatnya, karena butuhnya dia kepada hidayah tersebut.

Hidayah yang dimaksud dalam ayat adalah petunjuk taufiq kepada jalan yang bisa menghantarkan kepada Allah dan surga-Nya. Yaitu petunjuk untuk menjalankan ajaran dien ini dengan ilmu dan amal. Bentuknya, mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, demikian yang dijelaskan Syaikh Abdul Rahman bin Nashir bin al Sa'di dalam tafsirnya.

Jalan petunjuk ini telah ditempuh oleh para nabi, shiddiiqiin, syuhada', dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhaj al Sunnah jilid pertama juga menjelaskan demikian. Bahwa Shirathal Mustaqim dalam QS. Al-Fatihah: 7, mencakup dua perkara: mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Lalu beliau menyimpulkan, bahwa orang yang keluar dari Shirathal Mustaqim hanya mengikuti perasangka dan hawa nafsu. Inilah kondisi ahli bid'ah, di antaranya kaum Syi'ah Rafidlah.

Sesungguhnya kesesatan bersumber dari dua hal, yaitu jahil dan mengikuti hawa nafsu. Jahil adalah perilaku orang Nashrani yang meninggalkan kebenaran karena bodoh dan tersesat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu adalah perilaku orang Yahudi yang mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya. Karenanya, kita berdoa agar tidak dijadikan seperti mereka, ". . . bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al Faatihah: 7)

Mereka yang dimurkai adalah orang Yahudi. Sedangkan mereka yang sesat adalah orang Nashrani. Dan Syi'ah menyerupai Yahudi dalam keburukan dan mengikuti hawa nafsu; dan menyerupai Nasrani dalam masalah ghuluw (melampai batas) dan kebodohan.

Imam Asy-Sya'bi memiliki beberapa perkataan tentang Syi'ah Rafidlah:

§ Kalau seandainya Syi'ah dari jenis binatang, ia sebagai keledainya.

§ Kalau dari jenis burung, ia sebagai burung rukham.

§ Siap membayar berapa saja pada orang yang mau membuat riwayat dusta tentang Ali.

§ Masuk Islam didasari kebencian terhadap pemeluknya.>



Kesamaan Antara Syi'ah Dengan Yahudi :

Ø Orang Yahudi mengatakan yang layak memegang kekuasaan adalah keluarga Dawud. Sedangkan kata Syi'ah; tidak layak menduduki imamah (kekuasaan) kecuali anak turun 'Ali bin Abi Thalib (Ahlul Bait).

Ø Orang Yahudi meyakini tidak ada jihad di jalan Allah sehingga al-Masih Ad-Dajjal keluar dan membawa pedang yang diturunkan di tangan dari langit. Sedangkan orang Syi'ah berkeyakinan tidak ada jihad di jalan Allah sehingga Imam Mahdi (Imam kedua belas mereka) keluar dan ada yang mengomando dari langit.

Ø Orang Yahudi mengakhirkan shalat sampai munculnya bintang-bintang. Sedangkan orang Syi'ah Rafidlah mengakhirkan shalat Maghrib sampai munculnya bintang-bintang.

Ø Mereka menyimpangkan dan merubah kitab Taurat. Sedangkan Rafidlah menyimpangkan dan merubah kitab suci Al-Qur'an.

Ø Dalam Syari'at Yahudi, wanita yang ditalak (cerai) tidak memiliki 'iddah. Begitu juga yang diterapkan orang Syi'ah dalam nikah mut'ah.

Ø Orang Yahudi tidak murni dalam mengucapkan salam kepada kaum mukminin, yaitu dengan as-sam 'alaikum (kematian atas kalian). Begitu juga perilaku Syi'ah Rafidlah terhadap kaum mukminin selain golongan mereka, khususnya Ahlus Sunnah.

Ø Orang Yahudi mengharamkan ikan yang tidak bersisik dan belut. Mereka juga mengharamkan kelinci (mermut), kancil, limpa dan biawak. Begitu juga golongan Syi'ah Rafidlah mengharamkan semua itu.

Ø Orang Yahudi mengingkari bolehnya mengusap khuf (kaos kaki/sepatu slop) dalam bersuci. Begitu juga Rafidlah.

Ø Orang Yahudi menghalalkan harta seluruh manusia selain golongan mereka, boleh menipu mereka dan menghalalkan darah mereka. Begitu juga Syi'ah Rafidlah terhadap golongan selain mereka, khususnya terhadap Ahlu Sunnah.

Ø Orang Yahudi membenci Malaikat Jibril 'alaihis salam. Mereka mengatakan: "ia musuh kami dari golongan Malaikat." Sedangkan golongan Syi'ah Rafidlah mengatakan malaikat Jibril 'alaihis salam telah salah alamat ketika menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yang seharusnya disampaikan kepada Ali bin Abi Thalib.

Ø Orang Yahudi tidak mengakui thalaq wanita kecuali di kala haid. Begitu juga Rafidlah mengakui thalaq (perceraian) ketika si wanita dalam keadaan haid.

Ø Yahudi tidak memberikan mahar bagi pasangan wanita mereka, mereka hanya memberikan mata' pada mereka. Seperti itulah perilaku Rafidlah dalam nikah mut'ah.

Ø Mereka sedikit menceng dari kiblat dan mengangguk-angguk dalam shalat. Begitu juga Syi'ah Rafidlah.

Ø Orang yahudi dibenarkan menipu orang kafir (selain golongan mereka), kalau perlu bersikap bersikap munafik (dua muka) terhadap mereka. Begitu juga orang Yahudi yang murtad akan diperlakukan seperti orang kafir, kecuali jika dilakukan hanya untuk berpura-pura (taqiyyah) saja untuk mengelabuhi orang lain. Itulah konsep ajaran taqiyyah Syi'ah Rafidlah.


Kesamaan Syi'ah Dengan Nasrani

Nasrani meyakini kaum Hawariyun dan pengikut Nabi Isa lebih mulia dari Nabi Ibrahim dan Musa, bahkan lebih mulia dari seluruh Nabi dan rasul. Mereka juga meyakini kaum Hawariyun adalah rasul yang diajak bicara langsung oleh Allah. Bahkan mereka berkata: "Allah adalah al-Masih dan al-Masih adalah adalah anak Allah." Sedangkan Syi'ah Rafidlah meyakini imam dua belas lebih mulia dan utama daripada sahabat Muhajirin dan Anshar. Bahkan golongamn ekstrim mereka para imam lebih mulia daripada para Nabi, karena mereka memiliki sifat ketuhanan sebagaimana keyakinan kaum Nasrani terhadap al-Masih.

Nasrani meyakini bahwa agama ini diserahkan kepada para pendeta dan rahib. Halal adalah apa yang mereka halalkan, dan haram adalah apa yang meraka haramkan. Dan agama adalah apa yang mereka syari'atkan. Sedangkan kaum Syi'ah Rafidlah meyakini bahwa dien ini diserahkan kepada para imam, halal dan haram sesuai ketentuan mereka dan agama adalah apa yang mereka syariatkan.


Kelebihan Yahudi Dan Nashrani Atas Syi'ah Rafidlah:

·Menurut Yahudi; orang yang paling baik adalah sahabat Nabi Musa 'alaihis salam.

·Menurut Nasrani; orang paling baik adalah sahabat Nabi Isa 'alaihis salam, hawariyyun, penolong nabi Isa 'alaihis salam.

·Sedangkan menurut Syi'ah; orang yang paling buruk adalah sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka diperintahkan untuk beristighfar (memintaka ampun) untuk para sahabat, tapi mereka malah mencela para sahabat dan menghunuskan pedang kepada mereka sampai hari kiamat.


Sumber: http://www.fiqhislam.com/agenda-muslim/artikel-islami/12779-persamaan-syiah-dengan-yahudi-dan-nasrani.html

Read More...

Friday, December 24, 2010

Syiah, Ajaran Sesat Yang Dilindungi?

Syiah atau Shi'a (شيعى) Syiah adalah salah satu aliran dalam Islam yang mengutamakan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya dan mendakwa Ahlul Bait yang disebut dalam Surah 33 Ayat 33 al-Quran, merujuk kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Hussein. Pendapat golongan ini, Ali sepatutnya menjadi pemimpin pertama umat Islam (Amirul Mo'mineen) selepas Nabi Muhammad s.a.w. wafat kerana Nabi s.a.w. sendiri mewasiatkan Ali sebagai Mawla selepas baginda (Ghadir Khum)). Pebalahan pendapat tentang penganti rasulullah inilah yang memecahkan umat islam kepada dua golongan iaitu golongan terbesar ialah Sunni yang tidak mengutamakan Ali dan golongan yang kedua terbesar dalam Islam, Syiah.

Syiah juga macam sunni, berpecah kepada beberapa golongan dan 3 golongan besar ialah Syiah Imam Duabelas atau Imamiyyah/Ja'fariyyah yang merangkumi 90% penduduk di Iran dan sebahagian besar penduduk Iraq. Golongan Syiah yang lebih kecil termasuklah Ismailiyyah, Zaidiyyah dan Syiah Imam Bertujuh. Alawiyyah dan Druze juga menganggap diri mereka Syiah meskipun mereka tidak sentiasa diiktiraf oleh Syaih lain. Tarikat-tarikat Sufi beraliran Syiah termasuklah Tarikat Alevi, Bektashi Hamadani dan Fatimid. Dua puluh peratus dari penduduk Turki adalah mengikut tarikat Alavi sementara Lubnan dan Siria pula mempunyai bilangan besar golongan Druze dan Alawi.


Pergerakkan Hizbollah di Lubnan juga adalah dari golongan Syiah Imam Duabelas.


Apapula pandangan Syiah mengikut orang Syiah sendiri? Mereka juga ada hujah tentang kebenaran aliran mereka anuti. Seperti dakwaan mereka perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur'an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci".
Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,"Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah".

Ketiga dan keempat adalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,"Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya".

Dalam hadith Hadith Nabi SAW merke dakwa di sebebut lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 - Surah al-Bayyinah, Nabi SAW bersabda:"Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai", dan sabdanya lagi:"Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti".

Bagi Ulamak-ulamak Sunnah, ada beberapa sebab mengapa Syiah perlu ditolakdan dibentras. Di Malaysia, Perlis dan Selangor adalah negeri yang mengambil berat tentang penyelewangan Syiah. Terdapat beberapa orang aktivis Syiah yang cuba menyebarkan fahaman Syiah di Negeri ini. Oleh itu, beberapa kertas kerja telah dibentangkan sebagai siri kulliah akidah terutamanya di beberapa masjid di sekitar Perlis, Pulau Pinang dan Selangor insya-Allah.

Antara pegangan Syiah yang diragui dan di tolak oleh ulama-ulama sunnah di Malaysia dan di dunia;

Syiah Mengkafirkan Para Sahabat
Bukti ini dilihat dalam beberapa kitab besar mereka iaitu:
1. Abu Ja'far berkata:
"Semua manusia (kaum muslimin Ahli Sunnah wal-Jamaah) menjadi Ahli Jahiliyah (kafir/murtad setelah kewafatan Rasulullah) kecuali empat orang, Ali, Miqdad, Salman dan Abu Dzar".[8]
2. Al-Kulaini[9] mensifatkan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman telah terkeluar dari kalangan orang yang beriman (murtad/kafir) lantaran tidak melantik Ali sebagai khalifah setelah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam wafat.[10] Malah al-Kulaini mengkafirkan seluruh penduduk Mekkah dan Madinah. Menurut Kulaini:
"Penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah dan penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah dengan terang-terang".[11]
Al-Kulaini juga menetapkan dalam kitabnya al-Kafi:
"Sesiapa yang tidak beriman kepada Imam Dua Belas maka dia adalah kafir walaupun dia keturunan Ali atau Fatimah".[12]
3. Al-Majlisi seorang ulama besar Syiah menegaskan:
“Bahawa mereka (Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman) adalah pencuri yang khianat dan murtad, keluar dari agama, semoga Allah melaknat mereka dan semua orang yang mengikut mereka dalam kejahatan mereka, sama ada orang dahulu atau orang-orang kemudian".[13]
Budak Ali bin Husin berkata:
"Saya pernah bertanya kepada Ali bin Husin tentang Abu Bakar dan 'Umar. Maka dia menjawab: Keduanya kafir dan sesiapa yang mencintainya juga kafir".[14]
4. Abu Basir (ulama Syiah) menegaskan:
"Sesungguhnya penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah secara terang-terang dan penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah, lebih buruk tujuh puluh kali dari penduduk Mekkah".[15]
Demikianlah kenyataan, fatwa, kepercayaan, pandangan dan tuduhan jahat para ulama Syiah terhadap Ahli Sunnah wal-Jamaah sama ada terhadap ulama atau orang awamnya.

Al-Quran Menurut Syiah
Merka berpendapat Al Quaran asli berada di tangan Ali. Dan buat masa sekarang ini al-Quran yang asli berada di tangan Imam Mahadi al-Muntazar.
Al-Kusyi pula berkata:
"Tidak sedikitpun isi kandungan di dalam al-Quran (yang digunakan oleh Ahli Sunnah wal-Jamaah sekarang, Pent.) yang boleh kita jadikan pegangan".[16]
Menurut para ulama Syiah:
“Seseorang itu akan dianggap kafir dan masuk neraka kerana tidak mengikut Imam Dua Belas Syiah atau kafir terhadap Syiah”.
Syiah banyak merubah ayat-ayat al-Quran dan tafsirannya. Contohnya ayat:
"Mengapa kamu masuk neraka?"
(Menurut penafsiran ulama Syiah):
"Orang-orang kafir menjawab, Kami tidak solat".
Ulama Syiah merubah tafsirannya yang sebenarnya kepada maksud dan tafsiran:
"Kami (masuk neraka kerana) tidak mengikut Imam (Syiah)".[17]
Begitulah kekarutan, khurafat dan batilnya kepercayaan penganut syiah yang telah disepakati oleh para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagai akidah yang sesat lagi menyesatkan.

Hadis Menurut Syiah
Semua Ahlili hadis, seperti Imam Bukhari, Muslim, Turmizi dan yang lainnya ditolak oleh Syiah. Syiah hanya menerima hadis yang diriwayatkan oleh perawi Ahli Bait. Menurut Syiah hadis bukan semata-mata dari Nabi tetapi dari Imam Dua Belas yang maksum. Nilai perkataan imam yang maksum senilai dengan wahyu dan sabda nabi.[18]

Syiah Mengkafirkan Ahli Sunnah Wal-Jamaah
1. Syiah menggelar golongan Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagai Nasibi(äóÇÕöÈöí) "Penipu, Pembangkang atau penentang Ali bin Abi Talib" kerana mereka mendahulukan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman sebagai khalifah.
Begitu juga ulama Syiah mengkafirkan pengikut mazhab Syafie, Hambali, Maliki dan Hanafi kerana mereka digolongkan sebagai an-Nasibi. Menurut ulama Syiah lagi:
"Dalam kalangan ulama (Ahli Sunnah) dari Malik, Abi Hanifah, Syafie, Ahmad dan Bukhari semua mereka kafir dan terlaknat".[19]
Keyakinan Syiah yang sesat ini diambil dari keterangan ulama mereka Syeikh Husin al-'Usfur ad-Darazi al-Bahrani. Beliau menegaskan:
"Riwayat-riwayat para imam menyebutkan bahawa an-Nasibi (si Kafir) adalah mereka yang digelar Ahli Sunnah wal-Jamaah".[20]
2. Syiah menganggap seluruh Ahli Sunnah wal-Jamaah kafir yang setara dengan orang-orang kafir musyrikin dan najis. Berkata Abu Qasim al-Musawi al-Khuri (ulama besar Syiah):
"Najis ada sepuluh jenis, yang ke sepuluh adalah orang kafir, iaitu yang tidak beragama atau yang beragama bukan Islam atau beragama Islam menolak yang datang dari Islam. Dalam hal ini tidak ada perbezaan antara murtad, kafir asli, kafir zimmi, Khawarij yang ghalu atau an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)".[21]
Berkata Ruhullah al-Musawi (ulama Syiah):
"Sesungguhnya an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dan Khawarij dilaknati Allah Subhanahu wa-Ta'ala. Keduanya adalah najis tanpa diragukan lagi".[22]
3. Syiah mengkafirkan Ahli Sunnah kerana tidak mengiktiraf (tidak mengimani) Imam Dua Belas. Berkata Yusuf al-Bahrani (ulama Syiah):
"Tidak ada perbezaan antara orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa-Ta'ala, RasulNya dan yang kafir kepada para Imam Dua Belas".[23]
Dan berkata Kamil Sulaiman (ulama Syiah):
"Sesiapa yang meyakini para Imam Dua Belas maka dia adalah orang yang beriman dan sesiapa yang mengingkarinya dia adalah kafir".[24]
Syiah menghalalkan darah dan harta Ahli Sunnah. Berkata Muhammad bin Ali Babawaihi al-Qummi, dia meriwayatkan dari Daud bin Farqad:
"Aku bertanya kepada Abu Abdullah 'alaihis salam: Bagaimana pendapat engkau membunuh an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)? Dia menjawab: Halal darahnya akan tetapi lebih selamat bila engkau sanggup menimpakan dengan tembok atau menenggelamkan (mati lemas) ke dalam air supaya tidak ada buktinya. Aku bertanya lagi: Bagaimana dengan hartanya? Dia menjawab: Rampas sahaja semampu mungkin".[25]
Berkata Abu Ja'far ath-Thusi (ulama Syiah):
"Berkata Abu Abdullah 'alaihis salam (Imam as-Sadiq): Ambillah harta an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dari jalan apapun kamu mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlima".[26]
Yusuf al-Bahrani berkata (ulama Syiah):
"Dari dahulu sehinggalah sekarang, bahawa an-Nasibi kafir dan najis secara hukum, dibolehkan mengambil segala harta benda mereka bahkan dihalalkan membunuhnya".[27]
Begitulah sikap golongan Syiah terhadap Ahli Sunnah wal-Jamaah yang mereka gelar sebagai an-Nasibi. Mereka bukan sahaja memusuhi Ahli Sunnah malah mengistiharkan bunuh dan rampas harta benda Ahli Sunnah wal-Jamaah. Dan rampasan tersebut dianggap oleh mereka sebagai ganimah (harta rampasan perang).

Agama Syiah Mewajibkan Taqiyah
Taqiyah atau berpura-pura (dissimulation) adalah satu prinsip yang diyakini oleh syiah Imamiyah. Berpegang kepada taqiyah adalah wajib bagi setiap penganut Syiah. Ianya adalah satu sikap yang menyembunyikan kebenaran yang (kononnya) jika didedahkan akan membawa kemusnahan diri atau agama seseorang Syiah.[28] Pada mulanya taqiyah dilakukan kerana takut terjadinya penindasan dari pihak pemerintah. Tetapi selanjutnya diamalkan untuk menipu, berbohong dan seterusnya untuk menghalalkan sesuatu yang haram atau sebaliknya.
Orang-orang Syiah akan menyamar sebagai Ahli Sunnah secara taqiyyah untuk memerangkap Ahli Sunnah yang kurang faham akan agama mereka. Tujuannya supaya dapat dirosakkan fahaman, akidah dan amal ibadahnya.
Abu Ja'far berkata:
"Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Dan tidak beragama bagi sesiapa yang tidak bertaqiyah".[29]
Abdullah berkata:
"Wahai Abu 'Umar! Sesungguhnya sembilan persepuluh dari agama terletak pada taqiyyah, tidak beragama bagi sesiapa yang tidak bertaqiyyah pada segala sesuatu, kecuali arak dan menyapu sepatu".[30]
Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad:
"Wahai Daud! Sekiranya kamu mengatakan bahawa orang yang meninggalkan taqiyah sama seperti orang yang meninggalkan solat, maka sesungguhnya betullah kata-katamu itu".[31]
Sebenarnya taqiyyah dalam agama Syiah adalah perbuatan nifak, pembuat nifak adalah seorang munafik. Tidak ada hadis sahih yang menghalalkan taqiyah sebagaimana yang dilakukan oleh golongan Syiah. Si Munafik pula dilaknat Allah dan ditempat di neraka yang paling bawah (kerak neraka), maka Ahli Sunnah wal-Jamaah diharamkan dari bertaqiyah.

Syariat Syiah Yang Menyesatkan
Syariat Syiah yang sebenar amat bertentangan dengan syariat Ahli Sunnah wal-Jamaah. Syiah digolongkan oleh Imam Syahrastani di dalam bukunya “Al-Milal Wan-Nihal” dan al-Bagdadi dalam bukunya “Al-Faraq Bain al-Firaq” segabai golongan 72 yang ke neraka, kerana penganut Syiah selain mengkafirkan Amirul Mukminin Abu Bakar, ‘Umar al-Khatab, Uthman radiallahu anhum dan para sahabat yang lain, mereka juga lebih meyakini syariat Daud 'alaihis salam daripada syariat Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam. Abu Ja'far berkata:
"Apabila Imam ghaib (Imam Mahdi) datang, ia akan memerintah dengan hukum syariat Daud (bukan syariat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam, pent)".[32]

Nikah Mut'ah
Syiah menghalalkan nikah mut'ah seberapa banyak, beberapa kali yang diinginkan dan yang semampu. Mereka menghalalkan nikah mut'ah sehingga ke Hari Kiamat. Sebaliknya Ahli Sunnah wal-Jamaah telah mengharamkan nikah mut'ah sehinggalah ke Hari Kiamat. Antara hadis (hadis-hadis sahih) dari Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam yang mengharamkan nikah mut’ah ialah:
"Dari Ali (Bin Abi Talib): Sesungguhnya Nabi Sallallahu 'alaihi wa-sallam telah melarang nikah mut'ah pada hari peperangan Khaibar dan baginda mengharamkan makan daging keldai kampung".[33]
"Sesungguhnya Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam melarang nikah mut'ah pada hari futuh (pembukaan) Mekkah".[34]
Antara tanda-tanda penganut agama Syiah ialah menghalalkan nikah mut’ah walaupun telah diharamkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam. Golongan Syiah telah menyelewengkan hadis-hadis sahih yang mengharamkan mut’ah. Oleh itu, orang-orang beriman yang mengakui sebagai Ahli Sunnah wal-Jamaah perlu membenteras fahaman dan ajaran Syiah kerana Syiah adalah golongan yang sesat lagi menyesatkan.

Rukun agama Syiah
Rukun iman Agama Syiah berbeza dengan rukum iman Ahli Sunnah wal-Jamaah, kerana rukun iman Syiah hanya lima perkara, iaitu:
1. Beriman kepada keEsaan Allah -
2. Beriman kepada Keadilan -
3. Beriman kepada Kenabian -
4. Beriman kepada Imam -
5. Beriman kepada Hari Kiamat -
Imam Malik secara terang-terangan telah mengkafirkan golongan Syiah kerana golongan ini membenci para sahabat Nabi dan sesiapa yang membenci sahabat Nabi adalah kafir. Hal ini telah disepakati oleh sebahagian besar ulama.[35]
Imam Malik rahimahullah juga pernah menjelaskan tentang Syiah:
"Mereka (Syiah) jangan diajak berbual dan jangan pula diberi perhatian, mereka adalah golongan pembohong".[36]
Imam Syafie rahimahullah pula berwasiat:
"Belum pernah aku saksikan di kalangan manapun manusia yang begitu berani menjadi pendusta dan sebagai saksi-saksi palsu seperti golongan Syiah".[37]
Begitulah fatwa-fatwa para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah terhadap golongan Syiah. Tidak terdapat seorangpun dari kalangan mereka yang menerima Syiah sama ada fahaman atau akidah mereka. Oleh itu, berwaspadalah terhadap gerakan, doktrin dan di’ayah Siyah, kerana pada hakikatnya mereka adalah pembohong yang hanya mengajak kepada kesesatan, pecah-belah dan kehancuran umat Islam. Wallahua’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin

http://www.youtube.com/watch?v=zjRsnYAflM8

Asal Usul Syiah di Malaysia:
TARIKH MUNCUL: 1979
TEMPAT BERKEMBANG: Selangor, Wilayah Persekutuan K.L., Kelantan, Johor, Perak dan Melaka.

TINDAKAN/HUKUMAN:
(a) Difatwakan sesat oleh 5 buah negeri:
Selangor: 19 Januari 1998
No. Warta: Sel. P.U. 10
Tarikh Warta: 24.9.98
Negeri Sembilan: 12 Mac 1998
No. Warta: N.S. P.U. 5
Tarikh Warta: -
P. Pinang: 16 Januari 1997
No. Warta: Pg. P.U.I.
Tarikh Warta: -
W.Persekutuan: 3 April 1997
No. Warta: W.P. PU(B) 106
Tarikh Warta: 27 Julai 1997
Terengganu: 25 September 1997
No. Warta: PUN Tr. (142)
Tarikh Warta: 25 Sept. 97

(b) Majlis Penjelasan Akidah telah diadakan di Kuala Lumpur, Johor dan Perak 1997 tahun 1999. Kursus Pemurnian Akidah kepada Kader Syiah pada Ogos 1998 di Kemunting Perak.

Kisah Syiah di Negeri Selangor:
Berdasarkan kajian dan siasatan Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) dan polis, Syiah di Negeri Selangor dikategorikan seperti berikut :
a) Pusat Pengajian Tinggi
Beberapa buah Pusat Pengajian Tinggi telah dikenal pasti menjadi sasaran Syiah bergerak iaitu Universiti Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Islam Antarabangsa dan Institut Teknologi Mara.
b) Orang Awam
Hasil penyiasatan JAIS bersama Polis dan JAKIM didapati beberapa orang penyebar fahaman ini telah bergerak cergas dalam kelompok kecil untuk berkempen dari rumah ke rumah. Di antara individu yang telah dikenalpasti ialah Syed Jaafar bin Abdul Hamid Al-Sagof, beliau didapati menyebarkan fahaman ini di Taman Permata dan Taman Melor di Hulu Klang.
c) Menubuhkan Persatuan
Terdapat usaha-usaha kumpulan ini menubuhkan persatuan untuk mengembangkan fahaman Syiah kepada orang ramai yang dikenali dengan nama “Darul Husaini” tetapi pendaftaran ditolak pada 19September 1992 atas nasihat MAIS dan JAKIM.

Di bawah, antara teks yang di copy dari website JAKIM:

Syiah di Malaysia merupakan satu kelompok pecahan dari umat Islam yang merangkumi lebih kurang 10% dari seluruh umat Islam di dunia1. Golongan Syiah ini berpecah kepada beberapa kumpulan. Tetapi di dalam buku penjelasan ini hanya disebut tiga (3) kumpulan yang terbesar iaitu:
i. Syiah Imam Dua Belas (ja'fariyah)
Kumpulan ini merupakan golongan Syiah yang terbesar di Iran dan merangkumi hampir 60% daripada penduduk Iraq. Golongan ini juga menjadi kumpulan minoriti di beberapa buah negara seperti Pakistan, Afghanistan, Lebanon dan Syria.
ii. Syiah Zaidiyah
Kumpulan yang dikenali dengan nama Syiah Imam Lima ini berkembang di Yaman dan hampir 40% daripada penduduk negara tersebut adalah pengikut Syiah Zaidiyah*.
iii. Syiah Ismailiyah
Kumpulan ini mempunyai Imam Tujuh dan pengikutnya dianggarkan seramai 2 juta orang. Kumpulan ini sekarang berpusat di India dan bertaburan di sekitar Asia Tengah, Iran, Syria dan Timur Afrika1.

Di Malaysia terdapat tiga (3) kumpulan Syiah yang berkembang semenjak beberapa tahun yang Ialu iaitu:
i. Syiah Taiyibi Bohra (Dawood Bohra)
Kumpulan ini berasal dari India dan di Malaysia ia dikenali dengan golongan yang memiliki Kedai Bombay. Kumpulan yang berpusat di daerah Kelang ini mempunyai tanah perkuburan dan masjidnya sendiri dan pengikutnya dianggarkan seramai 200 hingga 400 orang (tahun 1996).

ii. Syiah Ismailiah Agha Khan.
Kumpulan yang dikenali dengan nama Kedai Peerbhai ini bergerak di sekitar Lembah Kelang. Jumlah pengikut tidak diketahui tetapi bilangannya lebih kecil dari kelompok Bohra.

iii. Syiah Ja'fariyah @ Imamiah Ithna Assyariyyah (Imam Dua Belas)
a) Kumpulan Syiah ini dipercayai mula bertapak di Malaysia selepas kejayaan Revolusi Iran pada tahun 1979. Pengaruh ajaran dan fahaman kumpulan ini menular ke negara ini melalui bahan-bahan bacaan dan orang perseorangan sama ada yang berkunjung ke Iran atau yang datang dari Iran.
b) Fahaman Syiah ini bertambah meruncing apabila beberapa orang pensyarah universiti tempatan telah memainkan peranan untuk menyebarkan fahaman Syiah Ja'fariyah secara serius kepada para pelajar di Institut Pengajian Tinggi.
c) Beberapa buah kitab utama Syiah telah dijadikan bahan rujukan dan sebahagiannya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia, antaranya:
i) Kasyf al-Asrar
Oleh: Ayatullah al-Khomeini
ii) AI-Hukumah al-Islamiah
Oleh: Ayatullah al-Khomeini
iii) Al-Sabah Min al-Salaf
Oleh: Ayatullah al Murtadza az- Zubaidi
iv) AI- Usul Min al-Kaft
Oleh: al-Sheikh Muhammad bin Yaacob al-Kulaini (thn. 1338H)
v) Tahrir al- Wasilah
Oleh: Ayatullah al-Khomeini
vi) Al-Murajaat
Oleh: al-Sheikh Abdul Husin Syarafuddin al-Musawi
vii) Peshawar Nights
Oleh: al-Sayyid Muhammad Rais al-Wahidin
viii) Mafatih al-jittan
Oleh: Sheikh Abbas al-Qummi
ix) Minhaj Kebenaran dan Pendedahannya (Fiqh Lima Mazhab di antara Nas dan ljtihad)
Oleh: al-Hasan bin Yusuf al- Mutahhar al-Hulliyy, diterjemahkan oleh Prof. Madya Dr. Lutpi Ibrahim (thn. 1993)
x) Mengapa Aku Memilih Ahlul Bait a.s?
Oleh: Syeikh Muhammad Mar'i al-Amin al-Antaki - diterjemah oleh Prof. Madya Dr. Lutpi Ibrahim (thn. 1993)
xi) Al-Sahabah
Oleh: Haidar
xii) Ahlu al-Bait
Oleh: Dr. Mahfuz Mohamed

Pengaruh fahaman Syiah ini kian menular ke negeri-negeri di Semenanjung Malaysia, antaranya Kelantan, Johor, Perak, Wilayah Persekutuan dan Selangor. Di Malaysia, pengikut kumpulan ini dianggarkan antara 300 hingga 500 orang.
Antara gejala-gejala Syiah yang timbul akibat dari fahaman dan ajaran Syiah ini ialah:
i. Adanya usaha menghantar pelajar-pelajar melanjutkan pelajaran ke Iran.
ii. Wujudnya kes kahwin Mut'ah
iii. Meluasnya penyebaran buku-buku Syiah
iv. Wujudnya sokongan dari golongan tertentu kepada pengaruh Syiah terutama golongan ahli politik.
v. Wujudnya kesamaran dan keraguan orang ramai terhadap ajaran dan pegangan Islam yang sebenar, contohnya dalam aspek perkahwinan, pengkebumian dan sebagainya

Rantau Asia Tenggara, khususnya Malaysia adalah rantau yang hening dengan pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Sebarang usaha untuk memasukkan fahaman selain dari Ahli Sunnah Wal Jamaah terutama Syiah di kalangan penduduk rantau ini pasti akan menggugat keharmonian masyarakat.

Negara-negara yang mempunyai penganut Syiah, telah menimbulkan ketidakstabilan rakyat dan pentadbiran di negara tersebut. Penganut Syiah akan selama-lamanya cuba mengembang dan mempengaruhi pegangan mereka ke atas pengikut Ahli Sunnah Wal Jamaah. Mereka tidak mahu tunduk kepada pemerintahan dan pentadbiran Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Islam yang bersidang pada 3 Mei 1996 telah membuat keputusan iaitu:
Menetapkan bahawa umat Islam di Malaysia hendaklah hanya mengikut ajaran Islam yang berasaskan pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah dari segi Akidah, Syariah dan Akhlak.

Memperakukan bahawa ajaran Islam yang lain daripada pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah bercanggah dengan Hukum Syarak dan Undang-undang Islam; dan dengan demikian penyebaran apa-apa aj aran yang lain daripada pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah dilarang.

Dari kesimpulan, kenyataan JAKIM di atas, tidaklah jelas dan tidak kukuh tentang pengharaman Syiah di Malaysia, seperti pengharaman yang dikenakan kepada Al Arqam dan ajaran-ajaran sesat yang lain. Sebab itu, mungkin tidak ada tindakan serius diambil oleh JAKIM dan tiada pembasmiannya yang menyeluruh. Dan Ajaran Syiah walaupun dikatakan sesat, tetapi masih seperti dilindungi…

Walhualammm…
sumber:http://terjah.freephpnuke.org
Read More...

Thursday, December 23, 2010

Pemimpin Syiah Melayu Seru Hauzah Mereka Dibela

Berita penangkapan 200 penganut agama Syiah di Taman Sri Gombak baru-baru ini turut mendapat liputan negara luar termasuk media indonesia dan Iran sendiri. Apa yang menariknya sumber rasmi kerajaan Iran sendiri - Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) - datang melawat dan berjumpa dengan pemimpin utama Syiah melayu di Malaysia terkini yang bernama Syed Hasan al-Attas untuk membela suara-suara penganut agama ini supaya kedudukan mereka dibela oleh penganut agama itu di dalam dan di luar negara, khususnya Iran yang selama ini menaja jutaan ringgit menerusi kedutaannya untuk markas-markas syiah di Malaysia menurut maklumat penyelidikan JAKIM. Dalam wawancara dengan IRIB, pemimpin Syiah melayu itu secara jelas meyatakan penganut agama mereka merasa beruntung dengan kenyataan Menteri Dalam Negeri bahawa Syiah 'tidak berbahaya' kepada keselamatan negara.


baca berita di bawah :


Hawzah Imam Ridha (a.s.) mesti dipertahankan

Aktivis Syiah Malaysia ustaz Sayed Hasan Alatas mengeluarkan pernyataan tegas tentang peristiwa penangkapan jemaah Syiah Imamiyah yang menghadiri majlis Azadari di Hawzah Imam Ridha (a.s.), Gombak, Selangor.


Hawzah Imam Ridha (a.s.) mesti dipertahankan

Agensi Berita Ahlul Bait (ABNA.ir) - Aktivis Syiah Malaysia ustaz Sayed Hasan Alatas mengeluarkan pernyataan tegas tentang peristiwa penangkapan jemaah Syiah Imamiyah yang menghadiri majlis Azadari di Hawzah Imam Ridha (a.s.), Gombak, Selangor.



"Peristiwa penyerbuan Hawzah Imam Ridha adalah hal yang memprihatinkan. Hawzah Ar-Ridha mesti dipertahankan" kata Ustaz Sayed Hasan Alatas berkata kepada wartawan Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) pada malam Ahad (19/12) setelah mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh pengikut Ahlul Bait di Malaysia.

Ketika ditanya tentang pelanggaran undang-undang oleh Hawzah Ar-Ridha, Ustaz Hasan Alatas mengatakan, "Itu tidak benar, walaupun sebelumnya ada maklumat mengenai pelanggaran undang-undang, tapi itu tidak benar".

"Dalam peristiwa Hawzah Gombak ada hikmahnya. Apalagi kami baru mendengar pernyataan rasmi dari Menteri Dalam Negeri Malaysia yang menegaskan bahwa Mazhab Ahlul Bait as tidak berbahaya." Katanya lagi, "Jika tidak ada kes ini, pernyataan itu kemungkinan tidak keluar. Pernyataan rasmi itu sangat menguntungkan para pengikut Ahlul Bait a.s. di Malaysia".


http://www.abna.ir/data.asp?lang=15&id=218016
Read More...

Syiah, Asyura dan Karbala

Syiah, Asyura dan Karbala
Oleh Mohd Aizam Mas'od

Kedatangan 10 Muharam sering ditunggu-tunggu oleh penganut Syiah. Mereka seringkali mengaitkannya dengan semangat Asyura dan Karbala. Sehinggakan sesetengah penganut Syiah mengambil kesempatan menjadikan 10 Muharam sebagai hari memerangi Zionis.

Apakah umat Islam perlu disyiahkan terlebih dahulu agar Zionis mampu ditumbangkan?

Menyeru umat Islam di sebuah negara berpegangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah (ASWJ) supaya meniru sambutan Asyura dengan mengingati peristiwa Karbala seperti di Iran, Iraq dan Pakistan adalah sesuatu yang biadap.

Sesetengah penganut Syiah cuba beralasan dengan mengiaskan sambutan tersebut tiada bezanya dengan sambutan Maal Hijrah yang juga tiada dalilnya menurut al-Quran dan al-sunnah.

Kiasan palsu yang direka-reka ini langsung tidak mengenai 'illah (alasan) antara dua sambutan tersebut. Bukankah sambutan Maal Hijrah adalah sambutan memperingati perjuangan Rasulullah SAW dan umat Islam dalam melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah al-Munawwarah.

Tiada sesiapa pun di kalangan umat Islam tanpa mengira apa jua ideologi dan mazhab yang mengingkari fakta sejarah ini. Justeru, apa pula 'illah sambutan mengingati peristiwa Karbala diadakan?

Perjuangan apakah sebenarnya yang mahu dibangkitkan melalui peristiwa tersebut? Atau ia hanya satu bentuk penyesalan dan keinsafan yang kononnya mahu ditonjolkan oleh satu pihak terhadap pengkhianatan yang dilakukan oleh tangan mereka sendiri!

Bidaah Asyura tajaan Syiah

Mengaitkan hari Asyura iaitu 10 Muharam sebagai hari memperingati peristiwa Karbala adalah amat menyalahi konsep kesyukuran yang dinyatakan oleh Nabi SAW pada hari tersebut.

Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh hadis Rasulullah SAW yang sahih: Rasulullah SAW tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura (tanggal 10 Muharam), maka beliau bertanya: "Hari apakah ini?" Mereka menjawab: "Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israel daripada musuhnya, maka Musa a.s berpuasa pada hari itu kerana syukur kepada Allah. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya". Nabi SAW bersabda: "Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian", maka Nabi berpuasa Asyura dan memerintahkan puasanya. (riwayat Bukhari dan Muslim)

Namun apabila syahidnya Saidina Husin r.a di bumi Karbala pada 10 Muharam tahun 61 hijrah, tercetuslah satu bidaah yang menyesatkan. Asyura mula dijadikan oleh Syiah sebagai hari berkabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai ungkapan daripada kesedihan dan penyesalan.

Pada setiap kali Asyura, mereka memperingati kematian Saidina Husin dengan melakukan perbuatan-perbuatan tercela seperti berkumpul sambil menangis dan meratapi bagaikan histeria.

Mereka juga mengadakan perarakan di jalan-jalan dan pasar-pasar sambil memukul tubuh dengan rantai besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan sebagainya. (Al-Tasyayyu' Wasy-Syi'ah, Ahmad al-Kisrawiy al-Syi'iy, hal. 141, Tahqiq Dr. Nasyir al-Qifari).

Persoalannya mengapakah Syiah tergamak melakukan perbuatan sehingga ke tahap yang sedemikian rupa? Apakah pendorong yang menyebabkan peristiwa Karbala menjadi sesuatu yang amat signifikan bagi puak Syiah?

Jawapannya mudah. Ini kerana Syiah sendiri adalah pencetus kepada peristiwa pembunuhan Saiyidina Husin di Karbala!


http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=1222&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_05.htm

Read More...

Akhirnya, Selamat Datang Parlemen Syiah Di Iraq

Parlemen Iraq akhirnya secara resmi menyetujui Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan pemerintah barunya pada Selasa kemarin, sembilan bulan setelah pemilihan yang tidak meyakinkan karena perang bertahun-tahun.

Maliki mengangkat hampir semua atau bahkan mungkin semuanya yang berbasis Syiah dan menggantikan mereka semua yang mempunyai latar belakang suku kurdi dan Sunni. Misalnya, Maliki mengangkat Hussain al-Shahristani sebagai Menteri Perminyakan dan meninggalkan Zebari Hoshiyar yang tadinya sebagai menteri luar negeri.

Dalam pidato kepada parlemen sebelum menyetujui rencana pemerintah itu, Maliki mengakui adanya jalan kasar demokrasi Iraq dalam sembilan bulan terakhir ini di antara faksi-faksi politik.

"Saya tidak mengatakan bahwa pemerintahan ini, dengan segala formasinya, memuaskan warga negaranya dalam segi aspirasi, maupun blok politik, ataupun tidak juga ambisi saya pribadi, atau ambisi orang lain. Parlemen ini terbentuk dalam keadaan luar biasa," katanya kepada anggota parlemen.

Mantan Perdana Menteri Iyad Allawi, yang gagal untuk mendapatkan dukungan dari mayoritas parlemen, mengatakan bahwa koalisinya yang didukung penuh oleh blok Sunni akhirnya harus berpartisipasi dalam pemerintah.


"Kami sebagai blok Iraqiya menyatakan dukungan penuh kami bagi pemerintah ini,"kata Allawi. "Iraqiya akan memainkan peran aktif, produktif dan kooperatif."

Maliki belum memutuskan pilihan permanen untuk beberapa posisi, termasuk kementerian yang terkait keamanan seperti pertahanan dan menteri dalam negeri. (sa/thesatr)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/akhirnya-selamat-datang-parlemen-syiah-di-iraq.htm

Read More...

Mufti Saudi Menyeru Para Da'i Maanfaatkan Facebook untuk Berdakwah

Mufti besar Arab Saudi yang juga ketua dewan ulama senior, Syaikh Abdul Aziz Al-Syaikh, menyerukan para imam dan da'i untuk beradaptasi dengan peralatan serta teknologi yang ada di era modern saat ini dalam menyebarkan ceramah serta gagasan mereka, seperti menggunakan internet dan Facebook dalam konteks ini.

Pernyataan Mufti Arab Saudi tersebut disampaikan pada kuliah hari Ahad kemarin (19/12), yang berjudul: "Tugas da'i dalam mengatasi ancaman terorisme dan fanatisme dan penyimpangan ideologis."


Dalam perkuliahan tersebut Syaikh Abdul Aziz menjelaskan bagaimana kiat-kiat para khatib dan dai menangani masalah terorisme, dan bagaimana untuk mengatasi masalah penyimpangan intelektual dan bagaimana berbicara tentang hal itu, sembari mencatat bahwa profesi dai' yang berbicara di depan umum adalah salah satu karir terbesar dalam sejarah Islam dengan membimbing dan menyerukan masyarakat untuk mengerti akan ajaran agama mereka dan menjadi pendakwah adalah profesi para nabi dan rasul, yang dipimpin oleh Nabi Islam Nabi Muhammad saw."

Mufti Saudi ini dalam konteks ceramahnya, menyatakan tentang pedoman bagaimana menghadapi Al Qaeda dan pemikirannya, dan menyerukan untuk fokus pada titik-titik tertentu untuk menolak wacana "ekstremisme."

"Tidak diragukan lagi bahwa ekstremisme adalah masalah yang serius yang dibahas dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-saw, dan dengan memperingatkan masyarakat akan bahaya ekstremisme dan menyerukan mereka untuk bersikap moderat dalam memahami agama dan mengikuti perilaku jalan yang lurus," tegas Syaikh Abdul Aziz Al-Syaikh
Read More...

Tuesday, December 21, 2010

Wikileaks : Cina Ingin Membuat Muslim Indonesia Sekuler


Cina menginginkan muslim yang merupakan 85% daripada 240 juta penduduk Indonesia menjadi sekuler. Sekulerisasi itu bertujuan agar muslim di Indonesia tidak membahayakan kepentingan Cina yang sekarang sudah hampir menguasai Indonesia.
WikiLeaks mendedahkan sebuah kawat rahsia Kedutaan AS di Beijing yang berisi pertemuan wakil China dan AS. Dalam kawat itu, disebutkan China merencanakan untuk membuat umat Muslim Indonesia menjadi sekuler.

WikiLeaks mendedahkan dari sumber, Rabu (15/12/2010), sebuah kawat rahsia dari Kedutaan AS di Beijing tertanggal 5 Mar 2007 dengan kode referensi Beijing 1448. Di mana saat itu berlangsung pertemuan antara Wakil Menlu China Cui Tiankai dan Dirjen Urusan Asia Kemlu China Hu Zhengyue dengan pihak pejabat Kemlu AS Eric John.


Dalam pertemuan itu mereka membahas sejumlah negara Asean. Khususnya, Indonesia diantara negara yang mendapat perhatian yang utama. Eric John bertanya pada Hu, bagaimana pemerintah China melihat pemerintah Indonesia sekarang?

"Beijing tidak terkesan dengan presiden Indonesia pasca krisis ekonomi di akhir 1990-an. Tapi Beijing terkesan dengan perkembangan yang ditujukan Presiden SBY yang berkuasa sejak 2004," demikian kata Hu seperti diberitakan WikiLeaks.

Menurut Hu, China memantau betapa ada peningkatan gesekan antara etnis dan agama di Indonesia. Pemerintah China pun ingin mendorong sekularisasi muslim di Indonesia. "Beijing ingin mempromosikan Islam sekuler di Indonesia," kata Hu kepada John.

Bagaimana cara Beijing mensekulerkan muslim Indonesia? Menurut Hu, hal itu dilakukan dengan mendorong hubungan muslim Indonesia dengan muslim Cina. Dengan demikian, muslim Indonesia bisa terpengaruh dengan sifat muslim Cina, di mana di China memang sekuler, karena pemerintah Cina yang komunis itu, sangatlah ketat terhadap para pemeluk agama, khususnya Islam.

Bahkan, Cina tidak segan-segan melakukan repressif terhadap kaum muslimin, seperti yang terjadi di Propinsi Uigur.

mn/yh/berbagai sumber/eramuslim.com
Read More...

Friday, December 17, 2010

Syiah Pembunuh Sayyidina Husain Di Karbala Episode Akhir

Tetapi setelah golongan Syiah pada ketika itu merasakan perancangan mereka semua akan gagal apabila perjanjian damai di antara pihak Sayyidina Ali dan Muawiyah dipersetujui, maka golongan Syiah yang merupakan musuh-mush Islam yang menyamar atas nama Islam itu memikirkan diri mereka tidak selamat apabila perdamaian antara Sayyidina Ali dan Muawiyah berlaku. Maka segolongan dari mereka telah mengasingkan diri daripada mengikuti Sayyidina Ali dan mereka menjadi golongan Khawarij sementara segolongan lagi tetap berada bersama Sayyidina Ali. Perpecahan yang berlaku ini sebanarnya satu taktik mereka untuk mempergunakan Sayyidina Ali demi kepentingan mereka yang jahat itu dan untuk berselindung di sebalik beliau daripada hukuman kerana pembunuhan Khalifah Uthman.


Sayyidina Hasan pula pernah ditikam oleh golongan Syiah pehanya sehingga tembus kemudian mereka menunjukkan pula kebiadapannya terhadap Sayyidina Hasan dengan merampas harta bendanya dan menarik kain sejadah yang diduduki oleh Sayyidina Hasan. Ini semua tidak lain melainkan kerana Sayyidina Hasan telah bersedia untuk berdamai dengan pihak Sayyidina Muawiyah. Bahkan bukan sekadar itu saja mereka telah menuduh Sayyidina Hasan sebagai orang yang menghinakan orang-orang Islam dan sebagai orang yang menghitamkan muka orang-orang Mukmin.

Kebiadaban Syiah dan kebusukan hatinya ditujukan juga kepada Imam Jaafar As Shadiq bila seorang Syiah yang sangat setia kepada Imam Jaafar As Shadiq iaitu Rabi' menangkap Imam Jaafar As Shadiq dan membawanya kehadapan Khalifah Al-Mansur supaya dibunuh. Rabi' telah memerintahkan anaknya yang paling keras hati supaya menyeret Imam Jaafar As Shadiq dengan kudanya. Ini tersebut di dalam kitab Jilaau Al ' Uyun karangan Mulla Baqir Majlisi.

Di dalam kitab yang sama pengarangnya juga menyebutkan kisah pembunuhan Ali Ar Ridha iaitu Imam yang ke lapan di sisi Syiah, bahawa beliau telah dibunuh oleh Sabih Dailamy, seorang Syiah kental dengan perintah Al Makmun. Bagaimanapun diceritakan bahawa selepas dibunuh itu Imam Ar Ridha dengan mukjizatnya terus hidup kembali dan tidak ada langsung kesan-kesan pedang di tubuhnya.

Bagaimanapun Syiah telah menyempurnakan tugasnya untuk membunuh Imam Ar Ridha. Oleh itu tidaklah hairan golongan yang sampai begini biadapnya terhadap Imam-imam boleh membunuh Sayyidina Husain tanpa belas kasihan di medan Karbala.

Boleh jadi kita akan mengatakan bagaimana mungkin pengikut-pengikut setia Imam-imam ini yang dikenali dengan 'syiah' boleh bertindak kejam pula terhadap Imam-imamnya? Tidakkah mereka sanggup mempertahankan nyawa demi mempertahankan Iman-imam mereka? Secara ringkas bolehlah kita katakan bahawa 'perasaan kehairanan' yang seperti ini mungkin timbul dari dalam fikiran Syiah, yang tidak mengetahui latar belakang kewujudan Syiah itu sendiri. Mereka hanya menerima secara membabi buta daripada orang-orang terdahulu. Adapun orang-orang yang mengadakan sesuatu fahaman dengan tujuan-tujuan yang tertentu dan masih hidup ketika mana ajaran dan fahaman itu mula dikembangkan tentu sekali mereka sedar maksud dan tujuan mereka mengadakan ajaran tersebut. Pada lahirnya mereka menunjukkan taat setia dan kasih sayang kepada Imam-imam itu, tetapi pada hakikatnya adalah sebaliknya.

2. Di antara bukti yang menunjukkan tidak ada peranan Yazid dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala, bahkan golongan Syiahlah yang bertanggungjawab membunuh beliau bersama dengan ramai orang-orang yang ikut serta di dalam rombongan itu, ialah adanya hubungan persemendaan di antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, selepas berlakunya peperangan Siffin dan juga selepas berlakunya peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala.

Tidak mungkin orang-orang yang bermaruah seperti kalangan Ahlul Bait akan berkahwin dengan orang-orang yang diketahui oleh mereka sebagai pembunuh-pembunuh atau orang-orang yang bertanggungjawab di dalam membunuh ayah, datuk atau bapa saudara mereka Sayyidina Husain. Hubungan ini selain daripada menunjukkan pemerintah-pemerintah dari kalangan Bani Muawiyah dan Yazid sebagai orang yang tidak bersalah di dalam pembunuhan ini, ia juga menunjukkan mereka adalah golongan yang banyak berbudi kepada Ahlul Bait dan sentiasa menjalinkan ikatan kasih sayang di antara mereka dan Ahlul Bait.

Di antara contoh hubungan persemendaan ini ialah:

(1) Anak perempuan Sayyidina Ali sendiri bernama Ramlah telah berkahwin dengan anak Marwan bin Al-Hakam yang bernama Muawiyah iaitu saudara kepada Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan. (Ibn Hazm-Jamharatu Al Ansab, m.s. 80)

(2) Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali berkahwin dengan Amirul Mukminin Abdul
Malik sendiri iaitu khalifah yang ke empat daripada kerajaan Bani Umaiyah. (Al Bidayah Wa An Nihayah, jilid 9 m.s. 69)

(3) Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali iaitu Khadijah berkahwin dengan anak gabenor 'Amir bin Kuraiz dari Bani Umaiyah bernama Abdul Rahman. (Jamharatu An Ansab, m.s. 68). 'Amir bin Kuraiz adalah gabenor bagi pihak Muawiyah di Basrah dan dalam peperangan Jamal dia berada di pihak lawan Sayyidina Ali.

Cucu Sayyidina Hasan pula bukan seorang dua yang telah berkahwin dengan pemimpin-pemimpin kerajaan Bani Umaiyah bahkan sejarah telah mencatatkan 6 orang daripada cucu beliau telah berkahwin dengan mereka iaitu:-

1.Nafisah bt Zaid bin Hasan berkahwin dengan Amirul Mukminin Al Walid bin Abdul Malik bin Marwan.

2.Zainab bt Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali juga telah berkahwin dengan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik. Zainab ini adalah di antara orang yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah dan dia adalah salah seorang yang menyaksikan peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala dengan mata kepalanya sendiri.

3.Ummu Qasim bt Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali berkahwin dengan cucu Sayyidina Uthman iaitu Marwan bin Aban. Ummu Qasim ini selepas kematian suaminya Marwan berkahwin pula dengan Ali Zainal Abidin bin Al Husain.

4.Cucu perempuan Sayyidina Hasan yang keempat telah berkahwin dengan anak kepada Marwan bin Al-Hakam iaitu Muawiyah.

5.Cucu Sayyidina Hasan yang kelima bernama Hammaadah bt Hasan Al Mutsanna berkahwin dengan anak saudara Amirul Mukminin Marwan bin Al Hakam iaitu Ismail bin Abdul Malik.

6.Cucu Sayyidina Hasan yang keenam bernama Khadijah bt Husain bin Hasan bin Ali juga pernah berkahwin dengan Ismail bin Abdul Malik yang tersebut tadi sebelum sepupunya Hammaadah.

Perlu diingat bahawa semua mereka yang tersebut ada meninggalkan zuriat.
Dari kalangan anak cucu Sayyidina Husain pula ramai yang telah menjalinkan perkahwinan dengan individu-individu dari keluarga Bani Umaiyah, antaranya ialah:-

(1) Anak perempuan Sayyidina Husain yang terkenal bernama Sakinah. Selepas beberapa lama terbunuh suaminya Mus'ab bin Zubair, beliau telah berkahwin dengan cucu Amirul Mukminin Marwan iaitu Al Asbagh bin Abdul Aziz bin Marwan. Asbagh ini adalah saudara kepada Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz sedangkan isteri Asbagh yang kedua ialah anak kepada Amirul Mukminin Yazid iaitu Ummu Yazid. (Jamharatu Al -Ansab)

(2) Sakinah anak Sayyidina Husain yang tersebut tadi pernah juga berkahwin dengan cucu Sayyidina Uthman yang bernama Zaid bin Amar bin Uthman.

Sementara anak cucu kepada saudara-saudara Sayyidina Husain iaitu Abbas bin Ali dan lain-lain juga telah mengadakan perhubungan persemendaan dengan keluarga Umaiyah. Di antaranya yang boleh disebutkan ialah:-

Cucu perempuan kepada saudara Sayyidina Husain iaitu Abbas bin Ali bernama Nafisah bt Ubaidillah bin Abbas bin Ali berkahwin dengan cucu Amirul Mukminin Yazid yang bernama Abdullah bin Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Datuk kepada Nafisah ini iaitu Abbas bin Ali adalah di antara orang yang ikut serta dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah. Beliau terbunuh dalam pertempuran di medan Karbala .

Sekiranya benar cerita yang diambil oleh ahli -ahli sejarah dari Abu Mukhnaf, Hisyam dan lain–lain tentang kezaliman Yazid di Karbala yang dikatakan telah memerintah supaya tidak dibenarkan setitik pun air walaupun kepada kanak–kanak yang ikut serta dalam rombongan Sayyidina Husain itu sehingga mereka mati kehausan apakah mungkin perkahwinan di antara cucu kepada Abbas ini berlaku dengan cucu Yazid. Apakah kekejaman–kekejaman yang tidak ada tolak bandingnya seperti yang digambarkan di dalam sejarah boleh dilupakan begitu mudah oleh anak – anak cucu orang–orang yang teraniaya di medan Karbala itu? Apa lagi jika dilihat kepada zaman berlakunya perkahwinan mereka ini, bukan lagi di zaman kekuasaan keluarga Yazid, bahkan yang berkuasa pada ketika itu ialah keluarga Marwan. Di sana tidak terdapat satu pun alasan untuk kita mengatakan perkahwinan itu berlaku secara kekerasan atau paksaan.

Perkahwinan mereka membuktikan kisah–kisah kezaliman yang dilakukan oleh tentera Yazid ke atas rombongan Sayyidina Husain itu cerita–cerita rekaan oleh Abu Mukhnaf, Al Kalbi dan anaknya Hisyam dan lain–lain.

Cucu perempuan kepada saudara Sayyidina Husain, Muhammad bin Ali (yang terkenal dengan Muhammad bin Hanafiyah) bernama Lubabah berkahwin dengan Said bin Abdullah bin Amr bin Said bin Al Ash bin Umaiyah. Ayah kepada Lubabah ini ialah Abu Hisyam Abdullah yang dipercayai sebagai imam oleh Syiah Kaisamyyah .


Demikianlah serba ringkasnya dikemukakan hubungan persemendaaan yang berlaku di antara Bani Umaiyyah dan Bani Hasyim terutamanya dari anak cucu Sayyidina Ali, Hasan dan Husain. Hubungan persemendaan di antara mereka sangat banyak terdapat di dalam kitab-kitab Ansab dan sejarah. Maklumat lebih lanjut boleh dirujuk dari kitab–kitab seperti Jamratu Al Ansab, Nasbu Quraisy, Al Bidayah Wa An Nihayah, Umdatu Al Thalib Fi Ansab Aal Abi Thalib dan lain–lain .
Read More...

Thursday, December 16, 2010

Syiah Pembunuh Sayyidina Husain Di Karbala Episode 2

Beliau juga berkata kepada Syiah:

"Binasalah kamu! Bagaimana boleh kamu menghunuskan perang dendammu dari sarung-sarungnya tanpa sebarang permusuhan dan perselisihan yang ada di antara kamu dengan kami? Kenapakah kamu siap sedia untuk membunuh Ahlul Bait tanpa sebarang sebab? " (Ibid).

Akhirnya beliau mendoakan keburukan untuk golongan Syiah yang sedang berhadapan untuk bertempur dengan beliau:

"Ya Allah! Tahanlah keberkatan bumi dari mereka dan selerakkanlah mereka. Jadikanlah hati-hati pemerintah terus membenci mereka kerana mereka menjemput kami dengan maksud membela kami tetapi sekarang mereka menghunuskan pedang dendam terhadap kami ". (Ibid)

Beliau juga dirakamkan telah mendoakan keburukan untuk mereka dengan kata-katanya: "Binasalah kamu! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat……..Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darah kamu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia azab Tuhan untukmu di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya". (Mulla Baqir Majlisi-Jilaau Al'Uyun, m.s. 409).


Daripada kata-kata Sayyidina Husain yang dipaparkan oleh sejarawan Syiah sendiri, Mulla Baqir Majlisi, dapat disimpulkan bahawa:

(i) Diayah yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam menerusi penulisan sejarah bahawa pembunuhan Ahlul Bait di Karbala merupakan balas dendam dari Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait yang telah membunuh pemimpin-pemimpin Bani Umayyah yang kafir di dalam peperangan Badar, Uhud, Siffin dan lain-lain tidak lebih daripada propaganda kosong semata-mata kerana pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain dan Ahlul Bait di Karbala bukannya datang dari Syam, bukan juga dari kalangan Bani Umayyah tetapi dari kalangan Syiah Kufah.

(ii) Keadaan Syiah yang sentiasa diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang sejarah membuktikan termakbulnya doa Sayyidina Husain di medan Karbala ke atas Syiah.

(iii) Upacara menyeksa tubuh badan dengan memukul tubuhnya dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh golongan Syiah itu sehingga mengalir darah juga merupakan bukti diterimanya doa Sayyidina Husain dan upacara ini dengan jelas dapat dilihat hingga sekarang di dalam masyarakat Syiah.

Adapun di kalangan Ahlus Sunnah tidak pernah wujud upacara yang seperti ini dan dengan itu jelas menunjukkan bahawa merekalah golongan yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina Husain.

(iv) Betapa kejam dan kerasnya hati golongan ini dapat dilihat pada tindakan mereka menyembelih dan membunuh Sayyidina Husain bersama dengan sekian ramai ahli keluarganya walaupun setelah mendengar ucapan dan doa keburukan untuk mereka yang dipinta oleh beliau. Itulah dia golongan yang buta mata hatinya dan telah hilang kewarasan pemikirannya kerana sebaik saja mereka selesai membunuh, mereka melepaskan kuda Zuljanah yang ditunggangi Sayyidina Husain sambil memukul-mukul tubuh untuk menyatakan penyesalan. Dan inilah dia upacara perkabungan pertama terhadap kematian Sayyidina Husain yang pernah dilakukan di atas muka bumi ini sejauh pengetahuan sejarah. Dan hari ini tidakkah anak cucu golongan ini meneruskan upacara perkabungan ini setiap kali tibanya 10 Muharram?

Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain yang turut serta di dalam rombongan ke Kufah dan terus hidup selepas berlakunya peristiwa itu pula berkata kepada orang-orang Kufah lelaki dan perempuan yang merentap dengan mengoyak-ngoyakkan baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka, " Mereka ini menangisi kami. Tidakkah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka ?" (At Thabarsi-Al Ihtijaj, m.s. 156).

Pada halaman berikutnya Thabarsi menukilkan kata-kata Imam Ali Zainal Abidin kepada orang-orang Kufah. Kata beliau, " Wahai manusia (orang-orang Kufah)! Dengan Nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kamu, ceritakanlah! Tidakkah kamu sedar bahawasa kamu mengutuskan surat kepada ayahku (menjemputnya datang), kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu kerana amalan buruk yang telah kamu dahulukan untuk dirimu".

Sayyidatina Zainab, saudara perempuan Sayyidina Husain yang terus hidup selepas peristiwa itu juga mendoakan keburukan untuk golongan Syiah Kufah. Katanya, " Wahai orang-orang Kufah yang khianat, penipu! Kenapa kamu menangisi kami sedangkan air mata kami belum lagi kering kerana kezalimanmu itu. Keluhan kami belum lagi terputus oleh kekejamanmu. Keadaan kamu tidak ubah seperti perempuan yang memintal benang kemudian dirombaknya kembali. Kamu juga telah merombak ikatan iman dan telah berbalik kepada kekufuran...Adakah kamu meratapi kami padahal kamu sendirilah yang membunuh kami. Sekarang kamu pula menangisi kami. Demi Allah! Kamu akan banyak menangis dan sedikit ketawa. Kamu telah membeli keaiban dan kehinaan untuk kamu. Tompokan kehinaan ini sama sekali tidak akan hilang walau dibasuh dengan air apapun". (Jilaau Al ' Uyun, ms 424).

Doa anak Sayyidatina Fatimah ini tetap menjadi kenyataan dan berlaku di kalangan Syiah hingga ke hari ini.

Ummu Kulthum anak Sayyidatina Fatimah pula berkata sambil menangis di atas segedupnya, " Wahai orang-oang Kufah! Buruklah hendaknya keadaanmu. Buruklah hendaklah rupamu. Kenapa kamu menjemput saudaraku Husain kemudian tidak membantunya bahkan membunuhnya, merampas harta bendanya dan menawan orang-orang perempuan dari ahli rumahnya. Laknat Allah ke atas kamu dan semoga kutukan Allah mengenai mukamu".

Beliau juga berkata, " Wahai orang-orang Kufah! Orang-orang lelaki dari kalangan kamu membunuh kami sementara orang-orang perempuan pula menangisi kami. Tuhan akan memutuskan di antara kami dan kamu di hari kiamat nanti". (Ibid, ms 426-428)

Sementara Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain pula berkata, " Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami kemudian telah membunuh datukku Ali (Sayyidina Ali). Sentiasa darah-darah kami menitis dari hujung-hujung pedangmu……Tak lama lagi kamu akan menerima balasannya. Binasalah kamu! Tunggulah nanti azab dan kutukan Allah akan berterusan menghujani kamu. Siksaan dari langit akan memusnahkan kamu akibat perbuatan terkutukmu. Kamu akan memukul tubuhmu dengan pedang-pedang di dunia ini dan di akhirat nanti kamu akan terkepung dengan azab yang pedih ".

Apa yang dikatakan oleh Sayyidatina Fatimah bt. Husain ini dapat dilihat dengan mata kepala kita sendiri di mana-mana Syiah berada.

Dua bukti utama yang telah kita kemukakan tadi, sebenarnya sudah mencukupi untuk kita memutuskan siapakah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain di Karbala. Daripada keterangan dalam kedua-dua bukti yang lalu dapat kita simpulkan beberapa perkara :

1.Orang-orang yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk memberontak adalah Syiah.

2.Orang-orang yang tampil untuk bertempur dengan rombongan Sayyidina Husain di Karbala itu juga Syiah.

3.Sayyidina Husain dan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongannya terdiri daripada saudara- saudara perempuannya dan anak-anaknya menyaksikan bahwa Syiahlah yang telah membunuh mereka.

4.Golongan Syiah Kufah sendiri mengakui merekalah yang membunuh di samping menyatakan penyesalan mereka dengan meratap dan berkabung kerana kematian orang-orang yang dibunuh oleh mereka.

Mahkamah di dunia ini menerima keempat-empat perkara yang tersebut tadi sebagai bukti yang kukuh dan jelas menunjukkan siapakah pembunuh sebenar di dalam sesuatu kes pembunuhan, iaitu bila pembunuh dan yang terbunuh berada di suatu tempat, ada orang menyaksikan ketika mana pembunuhan itu dilakukan. Orang yang terbunuh sendiri menyaksikan tentang pembunuhnya dan kemuncaknya ialah pengakuan pembunuh itu sendiri. Jika keempat-empat perkara ini sudah terbukti dengan jelas dan diterima oleh semua mahkamah sebagai kes pembunuhan yang cukup bukti-buktinya, maka bagaimana mungkin diragui lagi tentang pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain itu ?

II. BUKTI-BUKTI SOKONGAN

Walaubagaimanapun kita akan mengemukakan lagi beberapa bukti sokongan supaya lebih menyakinkan kita tentang golongan Syiah itulah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain. Di antaranya ialah :

1. Tidak sukar untuk kita terima mereka sebagai pembunuh Sayyidina Husain apabila kita melihat kepada sikap mereka yang biadap terhadap Sayyidina Ali dan Sayyidina Hasan sebelum itu. Begitu juga sikap mereka yang biadap terhadap orang-orang yang dianggap oleh mereka sebagai Imam selepas Sayyidina Husain. Bahkan terdapat banyak pula bukti yang menunjukkan merekalah yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan beberapa orang Imam walaupun mereka menuduh orang lain sebagai pembunuh Imam- imam itu dengan menyebar luaskan propaganda- propaganda mereka terhadap tertuduh itu.

Di antara kebiadapan mereka terhadap Sayyidina Ali ialah mereka menuduh Sayyidina Ali berdusta dan mereka pernah mengancam untuk membunuh Sayyidina Ali. Bahkan Ibnu Muljim yang kemudiannya membunuh Sayyidina Ali itu juga mendapat latihan serta didikan untuk menentang Sayyidina Utsman di Mesir dan berpura-pura mengasihi Sayyidina Ali. Dia pernah berkhidmat sebagai pengawal Sayyidina Ali selama beberapa tahun di Madinah dan Kufah.

Di dalam Jilaau Al' Uyun disebutkan bahawa Abdul Rahman Ibn Muljim adalah salah seorang daripada kumpulan yang terhormat yang telah dikirimkan oleh Muhammad bin Abu Bakr dari Mesir. Dia juga telah berbai'ah dengan memegang tangan Sayyidina Ali dan dia juga berkata kepada Sayyidina Hasan, " Bahawa aku telah berjanji dengan Tuhan untuk membunuh bapamu dan sekarang aku menunaikannya. Sekarang wahai Hasan jika engkau mahu membunuhku, bunuhlah. Tetapi kalau engkau maafkan aku, aku akan pergi membunuh Muawiyah pula supaya engkau terselamat daripada kejahatannya". (Jilaau Al U'yun, ms 218)

bersambung di episode 3
Read More...

Syiah Pembunuh Sayyidina Husain Di Karbala Episode 1

Seorang tokoh Islam yang terkenal di Pakistan, Maulana Ali Ahmad Abbasi menulis di dalam bukunya "Hazrat Mu'aawiah Ki Siasi Zindagi" bahawa di dalam sejarah Islam, ada dua orang yang sungguh kontroversial. Seorang daripadanya Amirul Mukminin Yazid yang makin lama makin dimusnahkan imejnya walaupun semasa hayatnya beliau diterima baik oleh tokoh-tokoh utama di zaman itu. Seorang lagi ialah Mansor Al Hallaj. Di zamannya dia telah dihukum sebagai mulhid, zindiq dan salah seorang daripada golongan qaramithah oleh masyarakat Islam yang membawanya disalib. Amirul Mukminin Al Muqtadir billah telah menghukumkan beliau murtad berdasarkan fatwa sekalian ulama dan fuqaha' yang hidup pada waktu itu, tetapi imejnya semakin cerah tahun demi tahun sehingga akhirnya telah dianggap sebagai salah seorang ' aulia illah'.

Bagaimanapun semua ini adalah permainan khayalan dan fantasi manusia yang jauh daripada berpijak di bumi yang nyata. Semua ini adalah akibat daripada tidak menghargai dan memberikan penilaian yang sewajarnya kepada pendapat orang-orang pada zaman mereka masing-masing.

Pendapat tokoh-tokoh dari kalangan sabahat dan tabi'in yang sezaman dengan Yazid berdasarkan riwayat-riwayat yang muktabar dan sangat kuat kedudukannya menjelaskan kepada kita bahawa Yazid adalah seorang anak muda yang bertaqwa, alim, budiman, saleh dan pemimpin ummah yang sah dan disepakati kepemimpinannya. Baladzuri umpamanya dalam "Ansabu Al Asyraf" mengatakan bahawa, " Bila Yazid dilantik menjadi khalifah maka Abdullah bin Abbas, seorang tokoh dari Ahlul Bait berkata : " Sesungguhnya anaknya Yazid adalah daripada keluarga yang saleh. Oleh itu tetaplah kamu berada di tempat-tempat duduk kamu dan berilah ketaatan dan bai'ah kamu kepadanya" (Ansabu Al Asyraf, jilid 4, m.s. 4).


Sejarawan Baladzuri adalah di antara ahli sejarah yang setia kepada para Khulafa' Abbasiah. Beliau telah mengemukakan kata-kata Ibnu Abbas ini di hadapan mereka dan menyebutkan pula sebelum nama Yazid ' Amirul Mukminin'.

Abdullah Ibn Umar yang dianggap sebagai orang tua di kalangan sahabat pada masa itu pula bersikap tegas terhadap orang-orang yang menyokong pemberontakan yang dipimpin oleh Ibn Zubair terhadap kerajaan Yazid dan sikap yang begini disebut di dalam Sahih Bukhari bahawa, bila penduduk Madinah membatalkan bai'ah mereka terhadap Yazid bin Muawiyah maka Ibn Umar mengumpulkan anak pinak dan sanak saudaranya lalu berkata, " Saya pernah mendengar Rasulullah S.A.W bersabda, " Akan dipacakkan bendera untuk setiap orang yang curang (membatalkan bai'ahnya) pada hari kiamat. Sesungguhnya kita telah berbai'ah kepadanya dengan nama Allah dan RasulNya. Sesungguhnya saya tidak mengetahui kecurangan yang lebih besar daripada kita berbai'ah kepada seseorang dengan nama Allah dan RasulNya, kemudian kita bangkit pula memeranginya. Kalau saya tahu ada sesiapa daripada kamu membatalkan bai'ah kepadanya dan turut serta di dalam pemberontakan ini, maka terputuslah perhubungan di antaraku dengannya". (Sahih Bukhari -Kitabu Al Fitan)

Sebenarnya jika dikaji sejarah permulaan Islam kita dapati pembunuhan Sayyidina Husain di zaman pemerintahan Yazidlah yang merupakan fakta terpenting mendorong segala fitnah dan keaiban yang dikaitkan dengan Yazid tidak mudah ditolak oleh generasi kemudian. Hakikat inilah yang mendorong lebih banyak cerita-cerita palsu tentang Yazid diada-adakan oleh musuh-musuh Islam. Tentu sekali orang yang membunuh menantu Rasulullah s.a.w yang tersayang-dibelai oleh Rasulullah dengan penuh kasih sayang semasa hayatnya kemudian ditatang pula dengan menyebutkan kelebihan dan keutamaan-keutamaannya di dalam hadis-hadits Baginda- tidak akan dipandang sebagai seorang yang berperi kemanusiaan apalagi untuk mengatakannya seorang soleh, budiman, bertaqwa dan pemimpin umat Islam.

Kerana itulah cerita-cerita seperti Yazid sering kali minum arak, seorang yang suka berfoya-foya, suka mendengar muzik dan menghabiskan waktu dengan penari-penari, begitu juga beliau adalah orang terlalu rendah jiwanya sehingga suka bermain dengan monyet dan kera, terlalu mudah diterima oleh umat Islam kemudian.

Tetapi soalnya, benarkah Yazid membunuh Sayyidina Husain? Atau benarkah Yazid memerintahkan supaya Sayyidina Husain dibunuh di Karbala?

Selagi tidak dapat ditentukan siapakah pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya dan terus diucapkan ' Yazidlah pembunuhnya' tanpa soal selidik yang mendalam dan teliti, maka selama itulah nama Yazid akan terus tercemar dan dia akan dipandang sebagai manusia yang paling malang. Tetapi bagaimana jika yang membunuh Sayyidina Husain itu bukan Yazid ? Kemanakah pula akan kita bawakan segala tuduhan-tuduhan liar, fitnah dan caci maki yang selama ini telah kita sandarkan pada Yazid itu ?

Jika kita seorang yang cintakan keadilan, berlapang dada, sudah tentu kita akan berusaha untuk membincangkan segala keburukan yang dihubungkan kepada Yazid selama ini dan kita pindahkannya ke halaman rumah pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain yang sebenar. Apalagi jika kita seorang Ahlus Sunnah Wal Jamaah, sudah tentu dengan dengan adanya bukti-bukti yang kuat dan kukuh daripada sumber-sumber rujukan muktabar dan berdasarkan prinsip-prinsip aqidah yang diterima di kalangan Ahlus Sunnah, kita akan terdorong untuk membersihkan Yazid daripada segala tuduhan dan meletakkannya ditempat yang istimewa dan selayak dengannya di dalam rentetan sejarah awal Islam.

Sekarang marilah kita pergi ke tengah-tengah medan penyelidikan tentang pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala bersama-sama dengan sekian ramai ahli keluarganya.

PEMBUNUH SAYYIDINA HUSAIN ADALAH SYIAH KUFAH

Terlebih dahulu kita akan menyatakan dakwaan kita secara terus terang dan terbuka bahawa pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya bukanlah Yazid tetapi adalah golongan Syiah Kufah.

Dakwaan ini berdasarkan beberapa fakta dan bukti-bukti daripada sumber-sumber rujukan sejarah yang muktabar. Kita akan membahagi-bahagikan bukti-bukti yang akan dikemukakan nanti kepada dua bahagian :

(1) Bukti-bukti utama
(2) Bukti-bukti sokongan

I. BUKTI-BUKTI UTAMA

Dengan adanya bukti-bukti utama ini, tiada mahkamah yang dibangunkan untuk mencari kebenaran dan mendapatkan keadilan akan memutuskan Yazid sebagai pesalah dan sebagai penjenayah yang bertanggungjawab di dalam pembunuhan Sayyidina Husain. Bahkan Yazid akan dilepaskan dengan penuh penghormatan dan akan terbongkarlah rahsia yang selama ini menutupi pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya di Karbala.

Bukti pertamanya ialah pengakuan Syiah Kufah sendiri bahawa merekalah yang membunuh Sayyidina Husain. Golongan Syiah Kufah yang mengaku telah membunuh Sayyidina Husain itu kemudian muncul sebagai golongan "At Tawwaabun" yang kononnya menyesali tindakan mereka membunuh Sayyidina Husain. Sebagai cara bertaubat, mereka telah berbunuh-bunuhan sesama mereka seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebagai pernyataan taubatnya kepada Allah kerana kesalahan mereka menyembah anak lembu sepeninggalan Nabi Musa ke Thur Sina.

Air mata darah yang dicurahkan oleh golongan "At Tawaabun" itu masih kelihatan dengan jelas pada lembaran sejarah dan tetap tidak hilang walaupun cuba dihapuskan oleh mereka dengan beribu-ribu cara.

Pengakuan Syiah pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain ini diabadikan oleh ulama-ulama Syiah yang merupakan tunggak dalam agama mereka seperti Baaqir Majlisi, Nurullah Syustri dan lain-lain di dalam buku mereka masing-masing. Baaqir Majlisi menulis :

"Sekumpulan orang-orang Kufah terkejut oleh satu suara ghaib. Maka berkatalah mereka, " Demi Tuhan! Apa yang telah kita lakukan ini tak pernah dilakukan oleh orang lain. Kita telah membunuh "Ketua Pemuda Ahli Syurga" kerana Ibn Ziad anak haram itu. Di sini mereka mengadakan janji setia di antara sesama mereka untuk memberontak terhadap Ibn Ziad tetapi tidak berguna apa-apa". (Jilaau Al'Uyun, m.s. 430)

Qadhi Nurullah Syustri pula menulis di dalam bukunya Majalisu Al'Mu'minin bahawa selepas sekian lama (lebih kurang 4 atau 5 tahun) Sayyidina Husain terbunuh, ketua orang-orang Syiah mengumpulkan orang-orang Syiah dan berkata, " Kita telah memanggil Sayyidina Husain dengan memberikan janji akan taat setia kepadanya, kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya. Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampunkan kecuali kita berbunuh-bunuhan sesama kita ". Dengan itu berkumpullah sekian ramai orang-orang Syiah di tepi Sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang bermaksud, " Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu ". (Al Baqarah :54). Kemudian mereka berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Inilah golongan yang dikenali dalam sejarah Islam dengan gelaran "At Tawaabun".

Sejarah tidak melupai dan tidak akan melupai peranan Syits bin Rab'ie di dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala. Tahukah anda siapa itu Syits bin Rab'ie? Dia adalah seorang Syiah pekat, pernah menjadi duta kepada Sayyidina Ali di dalam peperangan Siffin, sentiasa bersama Sayyidina Husain. Dialah juga yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap kerajaan pimpinan Yazid, tetapi apakah yang telah dilakukan olehnya?

Sejarah memaparkan bahawa dialah yang mengepalai 4,000 orang bala tentera untuk menentang Sayyidina Husain dan dialah orang yang mula-mula turun dari kudanya untuk memenggal kepala Sayyidina Husain. (Jilaau Al'Uyun dan Khulashatu Al Mashaaib, m.s. 37)

Adakah masih ada orang yang ragu-ragu tentang Syiahnya Syits bin Rab'ie dan tidakkah orang yang menceritakan perkara ini ialah Mulla Baaqir Majlisi, seorang tokoh Syiah terkenal ? Secara tidak langsung ia bermakna pengakuan daripada pihak Syiah sendiri tentang pembunuhan itu.

Lihatlah pula kepada Qais bin Asy'ats ipar Sayyidina Husain yang tidak diragui tentang Syiahnya tetapi apa kata sejarah tentangnya? Bukankah sejarah mendedahkan kepada kita bahawa itulah orang yang merampas selimut Sayyidina Husain dari tubuhnya selepas selesai pertempuran ? (Khulashatu Al Mashaaib, m.s. 192)

Selain daripada pengakuan mereka sendiri yang membuktikan merekalah sebenarnya pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain, kenyataan saksi-saksi yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain sebagai saksi-saksi hidup di Karbala yang terus hidup selepas peristiwa ini juga membenarkan dakwaan ini termasuk kenyataan Sayyidina Husain sendiri yang sempat dirakamkan oleh sejarah sebelum beliau terbunuh. Sayyidina Husain berkata dengan menujukan kata-katanya kepada orang- orang Syiah Kufah yang siap sedia bertempur dengan beliau :

"Wahai orang-orang Kufah! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud- maksud jahatmu. Wahai orang-orang yang curang, zalim dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu kesempitan tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-mush di dalam menentang kami" (Jilaau Al' Uyun, ms 391).
Read More...

Wikileaks : Paus Menolak Turki Masuk Uni Eropa

"Paus harus bertanggung jawab terjadinya permusuhan Vatikan terhadap Turki dengan Uni Eropa", demikian kawat rahasia yang dibocorkan oleh Wikileaks.

Surat kabar Inggris Guardian melaporkan bahwa kawat terbaru WikiLeaks mengungkapkan, Paus Benedictus XVI, menolak keinginan Turki yang ingin bergabung ke dalam Uni Eropa. Koran itu menyatakan "Pada tahun 2004 Kardinal Ratzinger, menentang masuknya Turki sebagai negara muslim yang akan bergabung dengan Uni Eropa. Walaupun pada saat itu Vatikan secara resmi sikapnya netral terhadap rencana masuknya Turki ke dalam Uni Eropa."


Pejabat Kementerian Luar Negeri Vatikan, Monsignor Pietro Parolin, menanggapi isi kawat yang bersumber dari diplomat AS yang mengutip komentar dari Ratzinger itu adalah posisi resmi dar Vatikan, kata diplomat AS itu.



Hal itu menunjukkan bahwa Tahta Suci telah konsisten terbuka untuk akses Turki dalam perundingan sejak tahun 2006. Koran Guardian mengatakan Paus mengatakan kepada diplomat AS bahwa Vatikan terbuka untuk akses bagi Turki ke dalam keanggotaan Uni Eropa, tetapi Puas menekankan bahwa Turki harus memenuhi kriteria Kopenhagen Uni Eropa untuk mengambil tempatnya di Eropa.


Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/dunia/wikileaks-paus-ingin-muslim-turki-keluar-uni-eropa.htm
Read More...

Monday, December 6, 2010

Bukan ‘Aishah Pencetus Fitnah Perang Jamal

Muqaddimah:
Rata-rata penulis sejarah Islam meletakkan kesalahan di atas bahu ‘Aishah dengan menuduhnya sebagai punca berlakunya fitnah perang Jamal yang berakhir dengan kekalahannya kepada tentera Sayyidina ‘Ali. Beliau didakwa mempunyai maksud untuk menjatuhkan Khalifah ‘Ali yang telahpun dibai’ah. Mereka mengaitkan juga dengan kegagalan Sayyidatina ‘Aishah di dalam peperangan Jamal itu dengan sabda Rasulullah SAW. yang bermaksud: “Sekali-kali tidak akan berjaya golongan yang dipimpin oleh seorang perempuan”. Persoalannya adakah benar begitu pendirian Sayyidatina ‘Aishah, isteri Rasulullah s.a.w. di dunia dan akhirat, guru kepada sekalian sahabat dan juga ibu kepada orang-orang mu`min? Apakah maksud memimpin orang-orang Islam menemui Sayyidina ‘Ali dan adakah wanita sama sekali tidak boleh menjadi pemimpin?

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الْجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Diriwayatkan daripada al-Hasan daripada Abu Bakrah katanya: “Allah memberi satu faedah dan pengajaran kepada saya apabila berlaku peperangan Jamal iaitu bila sampai kepada Rasulullah orang-orang Parsi melantik anak perempuan Kisra sebagai raja. Baginda bersabda: “Tidak akan berjaya satu kaum yang melantik perempuan memegang urusan mereka”. (al-Bukhari, no: 7099)




Apa yang disebutkan oleh Abu Bakrah sebenarnya adalah hasil kesimpulannya dan pemahamannya sendiri. Padahal peperangan Jamal tercetus bukan kerana permusuhan dan perebutan kuasa di antara Sayyidatina ‘Aishah dan Sayyidina ‘Ali tetapi kekeliruan akibat pertempuran yang dirancang di antara dua kumpulan Saba`iyyah (golongan Syiah) yang menyelinap masuk dalam kumpulan ‘Aishah dan Sayyidina ‘Ali. Kumpulan Saba’iyyah inilah yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina Uthman.

Sayyidatina ‘Aishah, yang mempunyai kedudukan dan berwibawa di kalangan umat Islam, telah didatangi oleh sekumpulan dari mereka supaya mencari jalan supaya tindakan diambil ke atas pembunuh-pembunuh Sayyidina Uthman. Untuk memenuhi permintaan tersebut, beliau bercadang menemui Sayyidina ‘Ali untuk menasihatinya supaya mengambil tindakan ke atas pembunuh Sayyidina Uthman demi mengelakkan fitnah yang lebih besar. Bersama dengan beliau ada dua orang sahabat besar iaitu Talhah dan al-Zubair r.a. Mereka berdua telah pun berbai’ah dengan Sayyidina ‘Ali dan meminta keizinan dari beliau (‘Ali) untuk menyelesaikan masalah darah Khalifah.

Pada masa itu, Sayyidatina ‘A`ishah dalam perjalanan pulang ke Madinah setelah menunaikan haji. Demi untuk menyelesaikan kekusutan tersebut beliau terpaksa berpatah balik ke Mekah.

Tujuan Sayyidatina ‘Aishah pergi ke Mekah ialah untuk mendamaikan bukan untuk menonjolkan dirinya untuk menjadi khalifah. Fakta sejarah telah diselewengkan dengan mengatakan tujuan kedatangan ‘A`ishah adalah untuk merampas jawatan khalifah. Sedangkan yang sebenarnya, beliau datang adalah untuk kedamaian iaitu untuk menyelesaikan kes pembunuhan Khalifah ‘Uthman.

Golongan munafikin yang membunuh Khalifah ‘Uthman membuat perhitungan iaitu jika Sayyidina ‘Ali dan ‘Aishah berdamai maka keselamatan mereka akan tergugat dan mereka akan dibunuh. Mereka segera mengatur rancangan dan membuat keputusan bahawa satu kumpulan dari mereka akan berada di pihak ‘Aishah manakala satu lagi kumpulan akan menyelinap ke dalam kumpulan Sayyidina ‘Ali. Sebelum Sayyidina ‘Ali dan para Sahabat mencapai apa-apa persetujuan, mereka secara senyap telah mencetuskan kekacauan dengan saling menyerang di antara satu sama lain menyebabkan berlaku kekeliruan kepada kedua-dua belah pihak. Orang-orang yang berada di pihak Sayyidatina ‘Aishah menyangka mereka diserang oleh pihak Sayyidina ‘Ali dan begitu juga sebaliknya.

Keadaan menjadi kelam-kabut dan berselerakan dan terjadilah pertumpahan darah sesama muslimin. Tercapai lah hajat musuh-musuh Islam tersebut.

Semuanya ini berlaku disebabkan oleh perancangan licik pembunuh-pembunuh Khalifah ‘Uthman. Pada hal, kedua-dua pihak Sayyidina Ali dan Sayyidatina ‘Aishah masih lagi berunding untuk menyelesaikan kes pembunuhan Sayyidina Uthman.

Amat malang niat mereka yang datang untuk berdamai dan memulihkan keadaan tetapi muncul pula fitnah yang lain.

Dengan kekuatan tentera yang dimilikinya, Sayyidina ‘Ali berjaya menguasai pasukan Sayyidatina ‘Aishah kerana pada masa itu, pasukan Sayyidatina ‘Aishah tidak mempunyai kelengkapan yang mencukupi. Ini adalah kerana tujuan kedatangan mereka adalah bukan untuk berperang tetapi untuk mencari jalan perdamaian. Malah amat jauh sekali untuk memberontak dan merebut jawatan khalifah daripada Sayyidina ‘Ali.

Walaupun telah menguasai pertempuran, Sayyidina ‘Ali tetap menunjukkan sikap hormatnya kepada Sayyidatina ‘Aishah. Beliau menghantar Sayyidatina ‘Aishah pulang ke Madinah dalam keadaan tidak diapa-apakan dan terhormat. Kepada pasukannya, beliau berpesan supaya tidak menjadikan peperangan ini seperti peperangan lain kerana perang ini berlaku sesama sendiri. Harta pihak ‘A`ishah tidak boleh dijadikan sebagai ghanimah. Mereka yang lari tidak boleh dikejar dan yang terbunuh hendaklah disemadikan sebagai seorang Islam.

Abu Bakrah yang berpendapat bahawa apa yang berlaku adalah kesilapan ‘A`ishah kerana beliau seorang perempuan dan tidak layak memimpin sesuatu pasukan. Beliau memahami hadis “tidak akan berjaya satu kaum yang melantik perempuan memegang urusan mereka” sebagai berlaku kepada ‘Aishah. Apa yang difahami oleh Abu Bakrah sebenarnya adalah pendapatnya sendiri dan bukan mewakili pendapat semua sahabat.

Dengan bersandarkan pendapat Abu Bakrah inilah, ada ulama menyimpulkan bahawa wanita tidak boleh menjadi pemimpin baik di peringkat mana pun, sama ada di peringkat rendah, apatah lagi diperingkat tinggi.

Boleh atau tidaknya seorang perempuan menjadi pemimpin adalah merupakan khilaf di kalangan ulama dan kita tidak boleh berhujah dengan hadis ini dengan mengatakan wanita tidak boleh menjadi pemimpin sama sekali. Ini kerana apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. itu mempunyai latar belakang dan sebab yang khusus iaitu merujuk kepada Kisra Parsi yang melantik anak perempuannya sebagai raja.

Sekiranya wanita adalah secara mutlak tidak boleh menjadi pemimpin tentu sekali Sayyidina ‘Umar tidak akan melantik Shifa` binti ‘Abdullah menjadi ketua yang bertanggunjawab terhadap bandar Madinah. Keluarnya Sayyidatina ‘Aishah menemui ‘Ali dengan tujuan untuk menasihatinya menunjukkan wanita boleh keluar dari rumahnya sekiranya ada keperluan dan dengan maksud yang baik malah dia juga boleh terlibat dengan urusan politik. Sekiranya ‘Aishah mengetahui dan memahami hadis tersebut iaitu perempuan tidak boleh menjadi pemimpin (seperti yang difahami oleh Abu Bakrah) tentu dari awal lagi beliau tidak akan terlibat dengan urusan negara ini. Ini menunjukkan bahawa ‘Aishah berpendapat bahawa harus keluar jika mempunyai maksud yang baik .

Cuma apa yang berlaku kepada ‘Aishah adalah sesuatu yang di luar jangkaannya. Kedatangan beliau dan rombongannya dengan tujuan yang baik dan suasana yang damai telah bertukar menjadi fitnah akibat konspirasi dan perancangan jahat golongan munafikin atau Saba`iyyah. Adalah tidak benar untuk meletakkan kesalahan ini kepada beliau dengan semata-mata beralasan bahawa beliau seorang wanita.

Pada kenyataannya, jatuh bangun sesebuah kerajaan bukan terletak kepada jantina pemerintahnya, tetapi berdasarkan kepada kebijaksanaan, ketelusan dan keadilannya. Sekian banyak negara yang ma’mur dan maju di bawah pemerintahan wanita yang adil dan bijaksana. Sementara itu, berapa banyak kerajaan yang telah hancur walaupun diperintah oleh orang lelaki bilamana pemimpin tersebut lemah dan korup.

Malah ada ulama yang berpendapat wanita boleh menjadi pemimpin di semua peringkat kecuali di peringkat wilayah kubra iaitu kepimpinan tertinggi negara.

Yang menariknya, al-Qur`an merakamkan kisah Baqis yang menjadi raja sebuah negara yang ma’mur dan maju. Kehebatan kerajaannya itu tidak dapat dikalahkan kecuali oleh kerajaan Nabi Sulaiman.

Sifat atau keadaan pendapat Abu Bakrah ini sama seperti pendapat sahabat yang lain di mana mereka mengemukakan pendapat mengikut pemahaman masing-masing. Sebagaimana adanya khilaf di kalangan sahabat dalam masalah-masalah fiqh maka begitu juga dalam masalah ini. Tidak semestinya seseorang itu terikat dengan pendapat salah seorang sahabat.

Abu Husna
-Sejarah tidak pernah berbohong-
Read More...
Related Posts with Thumbnails
 
Related Posts with Thumbnails