Pages

Showing posts with label Bid'ah. Show all posts
Showing posts with label Bid'ah. Show all posts

Friday, January 21, 2011

Persamaan Syi'ah Dengan Yahudi Dan Nasrani

Dalam shalat, kita senantiasa memohon kepada Allah agar dikaruniakan hidayah atau petunjuk kepada Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus). Sebuah permohonan yang paling penting dan sangat dibutuhkan oleh seorang hamba. Karenanya, seorang hamba diwajibkan berdoa kepada Allah memohon hidayah ini pada setiap rakaat dalam shalatnya, karena butuhnya dia kepada hidayah tersebut.

Hidayah yang dimaksud dalam ayat adalah petunjuk taufiq kepada jalan yang bisa menghantarkan kepada Allah dan surga-Nya. Yaitu petunjuk untuk menjalankan ajaran dien ini dengan ilmu dan amal. Bentuknya, mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, demikian yang dijelaskan Syaikh Abdul Rahman bin Nashir bin al Sa'di dalam tafsirnya.

Jalan petunjuk ini telah ditempuh oleh para nabi, shiddiiqiin, syuhada', dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhaj al Sunnah jilid pertama juga menjelaskan demikian. Bahwa Shirathal Mustaqim dalam QS. Al-Fatihah: 7, mencakup dua perkara: mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Lalu beliau menyimpulkan, bahwa orang yang keluar dari Shirathal Mustaqim hanya mengikuti perasangka dan hawa nafsu. Inilah kondisi ahli bid'ah, di antaranya kaum Syi'ah Rafidlah.

Sesungguhnya kesesatan bersumber dari dua hal, yaitu jahil dan mengikuti hawa nafsu. Jahil adalah perilaku orang Nashrani yang meninggalkan kebenaran karena bodoh dan tersesat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu adalah perilaku orang Yahudi yang mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya. Karenanya, kita berdoa agar tidak dijadikan seperti mereka, ". . . bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al Faatihah: 7)

Mereka yang dimurkai adalah orang Yahudi. Sedangkan mereka yang sesat adalah orang Nashrani. Dan Syi'ah menyerupai Yahudi dalam keburukan dan mengikuti hawa nafsu; dan menyerupai Nasrani dalam masalah ghuluw (melampai batas) dan kebodohan.

Imam Asy-Sya'bi memiliki beberapa perkataan tentang Syi'ah Rafidlah:

§ Kalau seandainya Syi'ah dari jenis binatang, ia sebagai keledainya.

§ Kalau dari jenis burung, ia sebagai burung rukham.

§ Siap membayar berapa saja pada orang yang mau membuat riwayat dusta tentang Ali.

§ Masuk Islam didasari kebencian terhadap pemeluknya.>



Kesamaan Antara Syi'ah Dengan Yahudi :

Ø Orang Yahudi mengatakan yang layak memegang kekuasaan adalah keluarga Dawud. Sedangkan kata Syi'ah; tidak layak menduduki imamah (kekuasaan) kecuali anak turun 'Ali bin Abi Thalib (Ahlul Bait).

Ø Orang Yahudi meyakini tidak ada jihad di jalan Allah sehingga al-Masih Ad-Dajjal keluar dan membawa pedang yang diturunkan di tangan dari langit. Sedangkan orang Syi'ah berkeyakinan tidak ada jihad di jalan Allah sehingga Imam Mahdi (Imam kedua belas mereka) keluar dan ada yang mengomando dari langit.

Ø Orang Yahudi mengakhirkan shalat sampai munculnya bintang-bintang. Sedangkan orang Syi'ah Rafidlah mengakhirkan shalat Maghrib sampai munculnya bintang-bintang.

Ø Mereka menyimpangkan dan merubah kitab Taurat. Sedangkan Rafidlah menyimpangkan dan merubah kitab suci Al-Qur'an.

Ø Dalam Syari'at Yahudi, wanita yang ditalak (cerai) tidak memiliki 'iddah. Begitu juga yang diterapkan orang Syi'ah dalam nikah mut'ah.

Ø Orang Yahudi tidak murni dalam mengucapkan salam kepada kaum mukminin, yaitu dengan as-sam 'alaikum (kematian atas kalian). Begitu juga perilaku Syi'ah Rafidlah terhadap kaum mukminin selain golongan mereka, khususnya Ahlus Sunnah.

Ø Orang Yahudi mengharamkan ikan yang tidak bersisik dan belut. Mereka juga mengharamkan kelinci (mermut), kancil, limpa dan biawak. Begitu juga golongan Syi'ah Rafidlah mengharamkan semua itu.

Ø Orang Yahudi mengingkari bolehnya mengusap khuf (kaos kaki/sepatu slop) dalam bersuci. Begitu juga Rafidlah.

Ø Orang Yahudi menghalalkan harta seluruh manusia selain golongan mereka, boleh menipu mereka dan menghalalkan darah mereka. Begitu juga Syi'ah Rafidlah terhadap golongan selain mereka, khususnya terhadap Ahlu Sunnah.

Ø Orang Yahudi membenci Malaikat Jibril 'alaihis salam. Mereka mengatakan: "ia musuh kami dari golongan Malaikat." Sedangkan golongan Syi'ah Rafidlah mengatakan malaikat Jibril 'alaihis salam telah salah alamat ketika menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yang seharusnya disampaikan kepada Ali bin Abi Thalib.

Ø Orang Yahudi tidak mengakui thalaq wanita kecuali di kala haid. Begitu juga Rafidlah mengakui thalaq (perceraian) ketika si wanita dalam keadaan haid.

Ø Yahudi tidak memberikan mahar bagi pasangan wanita mereka, mereka hanya memberikan mata' pada mereka. Seperti itulah perilaku Rafidlah dalam nikah mut'ah.

Ø Mereka sedikit menceng dari kiblat dan mengangguk-angguk dalam shalat. Begitu juga Syi'ah Rafidlah.

Ø Orang yahudi dibenarkan menipu orang kafir (selain golongan mereka), kalau perlu bersikap bersikap munafik (dua muka) terhadap mereka. Begitu juga orang Yahudi yang murtad akan diperlakukan seperti orang kafir, kecuali jika dilakukan hanya untuk berpura-pura (taqiyyah) saja untuk mengelabuhi orang lain. Itulah konsep ajaran taqiyyah Syi'ah Rafidlah.


Kesamaan Syi'ah Dengan Nasrani

Nasrani meyakini kaum Hawariyun dan pengikut Nabi Isa lebih mulia dari Nabi Ibrahim dan Musa, bahkan lebih mulia dari seluruh Nabi dan rasul. Mereka juga meyakini kaum Hawariyun adalah rasul yang diajak bicara langsung oleh Allah. Bahkan mereka berkata: "Allah adalah al-Masih dan al-Masih adalah adalah anak Allah." Sedangkan Syi'ah Rafidlah meyakini imam dua belas lebih mulia dan utama daripada sahabat Muhajirin dan Anshar. Bahkan golongamn ekstrim mereka para imam lebih mulia daripada para Nabi, karena mereka memiliki sifat ketuhanan sebagaimana keyakinan kaum Nasrani terhadap al-Masih.

Nasrani meyakini bahwa agama ini diserahkan kepada para pendeta dan rahib. Halal adalah apa yang mereka halalkan, dan haram adalah apa yang meraka haramkan. Dan agama adalah apa yang mereka syari'atkan. Sedangkan kaum Syi'ah Rafidlah meyakini bahwa dien ini diserahkan kepada para imam, halal dan haram sesuai ketentuan mereka dan agama adalah apa yang mereka syariatkan.


Kelebihan Yahudi Dan Nashrani Atas Syi'ah Rafidlah:

·Menurut Yahudi; orang yang paling baik adalah sahabat Nabi Musa 'alaihis salam.

·Menurut Nasrani; orang paling baik adalah sahabat Nabi Isa 'alaihis salam, hawariyyun, penolong nabi Isa 'alaihis salam.

·Sedangkan menurut Syi'ah; orang yang paling buruk adalah sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka diperintahkan untuk beristighfar (memintaka ampun) untuk para sahabat, tapi mereka malah mencela para sahabat dan menghunuskan pedang kepada mereka sampai hari kiamat.


Sumber: http://www.fiqhislam.com/agenda-muslim/artikel-islami/12779-persamaan-syiah-dengan-yahudi-dan-nasrani.html

Read More...

Thursday, December 23, 2010

Syiah, Asyura dan Karbala

Syiah, Asyura dan Karbala
Oleh Mohd Aizam Mas'od

Kedatangan 10 Muharam sering ditunggu-tunggu oleh penganut Syiah. Mereka seringkali mengaitkannya dengan semangat Asyura dan Karbala. Sehinggakan sesetengah penganut Syiah mengambil kesempatan menjadikan 10 Muharam sebagai hari memerangi Zionis.

Apakah umat Islam perlu disyiahkan terlebih dahulu agar Zionis mampu ditumbangkan?

Menyeru umat Islam di sebuah negara berpegangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah (ASWJ) supaya meniru sambutan Asyura dengan mengingati peristiwa Karbala seperti di Iran, Iraq dan Pakistan adalah sesuatu yang biadap.

Sesetengah penganut Syiah cuba beralasan dengan mengiaskan sambutan tersebut tiada bezanya dengan sambutan Maal Hijrah yang juga tiada dalilnya menurut al-Quran dan al-sunnah.

Kiasan palsu yang direka-reka ini langsung tidak mengenai 'illah (alasan) antara dua sambutan tersebut. Bukankah sambutan Maal Hijrah adalah sambutan memperingati perjuangan Rasulullah SAW dan umat Islam dalam melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah al-Munawwarah.

Tiada sesiapa pun di kalangan umat Islam tanpa mengira apa jua ideologi dan mazhab yang mengingkari fakta sejarah ini. Justeru, apa pula 'illah sambutan mengingati peristiwa Karbala diadakan?

Perjuangan apakah sebenarnya yang mahu dibangkitkan melalui peristiwa tersebut? Atau ia hanya satu bentuk penyesalan dan keinsafan yang kononnya mahu ditonjolkan oleh satu pihak terhadap pengkhianatan yang dilakukan oleh tangan mereka sendiri!

Bidaah Asyura tajaan Syiah

Mengaitkan hari Asyura iaitu 10 Muharam sebagai hari memperingati peristiwa Karbala adalah amat menyalahi konsep kesyukuran yang dinyatakan oleh Nabi SAW pada hari tersebut.

Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh hadis Rasulullah SAW yang sahih: Rasulullah SAW tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura (tanggal 10 Muharam), maka beliau bertanya: "Hari apakah ini?" Mereka menjawab: "Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israel daripada musuhnya, maka Musa a.s berpuasa pada hari itu kerana syukur kepada Allah. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya". Nabi SAW bersabda: "Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian", maka Nabi berpuasa Asyura dan memerintahkan puasanya. (riwayat Bukhari dan Muslim)

Namun apabila syahidnya Saidina Husin r.a di bumi Karbala pada 10 Muharam tahun 61 hijrah, tercetuslah satu bidaah yang menyesatkan. Asyura mula dijadikan oleh Syiah sebagai hari berkabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai ungkapan daripada kesedihan dan penyesalan.

Pada setiap kali Asyura, mereka memperingati kematian Saidina Husin dengan melakukan perbuatan-perbuatan tercela seperti berkumpul sambil menangis dan meratapi bagaikan histeria.

Mereka juga mengadakan perarakan di jalan-jalan dan pasar-pasar sambil memukul tubuh dengan rantai besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan sebagainya. (Al-Tasyayyu' Wasy-Syi'ah, Ahmad al-Kisrawiy al-Syi'iy, hal. 141, Tahqiq Dr. Nasyir al-Qifari).

Persoalannya mengapakah Syiah tergamak melakukan perbuatan sehingga ke tahap yang sedemikian rupa? Apakah pendorong yang menyebabkan peristiwa Karbala menjadi sesuatu yang amat signifikan bagi puak Syiah?

Jawapannya mudah. Ini kerana Syiah sendiri adalah pencetus kepada peristiwa pembunuhan Saiyidina Husin di Karbala!


http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=1222&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_05.htm

Read More...

Friday, December 17, 2010

Syiah Pembunuh Sayyidina Husain Di Karbala Episode Akhir

Tetapi setelah golongan Syiah pada ketika itu merasakan perancangan mereka semua akan gagal apabila perjanjian damai di antara pihak Sayyidina Ali dan Muawiyah dipersetujui, maka golongan Syiah yang merupakan musuh-mush Islam yang menyamar atas nama Islam itu memikirkan diri mereka tidak selamat apabila perdamaian antara Sayyidina Ali dan Muawiyah berlaku. Maka segolongan dari mereka telah mengasingkan diri daripada mengikuti Sayyidina Ali dan mereka menjadi golongan Khawarij sementara segolongan lagi tetap berada bersama Sayyidina Ali. Perpecahan yang berlaku ini sebanarnya satu taktik mereka untuk mempergunakan Sayyidina Ali demi kepentingan mereka yang jahat itu dan untuk berselindung di sebalik beliau daripada hukuman kerana pembunuhan Khalifah Uthman.


Sayyidina Hasan pula pernah ditikam oleh golongan Syiah pehanya sehingga tembus kemudian mereka menunjukkan pula kebiadapannya terhadap Sayyidina Hasan dengan merampas harta bendanya dan menarik kain sejadah yang diduduki oleh Sayyidina Hasan. Ini semua tidak lain melainkan kerana Sayyidina Hasan telah bersedia untuk berdamai dengan pihak Sayyidina Muawiyah. Bahkan bukan sekadar itu saja mereka telah menuduh Sayyidina Hasan sebagai orang yang menghinakan orang-orang Islam dan sebagai orang yang menghitamkan muka orang-orang Mukmin.

Kebiadaban Syiah dan kebusukan hatinya ditujukan juga kepada Imam Jaafar As Shadiq bila seorang Syiah yang sangat setia kepada Imam Jaafar As Shadiq iaitu Rabi' menangkap Imam Jaafar As Shadiq dan membawanya kehadapan Khalifah Al-Mansur supaya dibunuh. Rabi' telah memerintahkan anaknya yang paling keras hati supaya menyeret Imam Jaafar As Shadiq dengan kudanya. Ini tersebut di dalam kitab Jilaau Al ' Uyun karangan Mulla Baqir Majlisi.

Di dalam kitab yang sama pengarangnya juga menyebutkan kisah pembunuhan Ali Ar Ridha iaitu Imam yang ke lapan di sisi Syiah, bahawa beliau telah dibunuh oleh Sabih Dailamy, seorang Syiah kental dengan perintah Al Makmun. Bagaimanapun diceritakan bahawa selepas dibunuh itu Imam Ar Ridha dengan mukjizatnya terus hidup kembali dan tidak ada langsung kesan-kesan pedang di tubuhnya.

Bagaimanapun Syiah telah menyempurnakan tugasnya untuk membunuh Imam Ar Ridha. Oleh itu tidaklah hairan golongan yang sampai begini biadapnya terhadap Imam-imam boleh membunuh Sayyidina Husain tanpa belas kasihan di medan Karbala.

Boleh jadi kita akan mengatakan bagaimana mungkin pengikut-pengikut setia Imam-imam ini yang dikenali dengan 'syiah' boleh bertindak kejam pula terhadap Imam-imamnya? Tidakkah mereka sanggup mempertahankan nyawa demi mempertahankan Iman-imam mereka? Secara ringkas bolehlah kita katakan bahawa 'perasaan kehairanan' yang seperti ini mungkin timbul dari dalam fikiran Syiah, yang tidak mengetahui latar belakang kewujudan Syiah itu sendiri. Mereka hanya menerima secara membabi buta daripada orang-orang terdahulu. Adapun orang-orang yang mengadakan sesuatu fahaman dengan tujuan-tujuan yang tertentu dan masih hidup ketika mana ajaran dan fahaman itu mula dikembangkan tentu sekali mereka sedar maksud dan tujuan mereka mengadakan ajaran tersebut. Pada lahirnya mereka menunjukkan taat setia dan kasih sayang kepada Imam-imam itu, tetapi pada hakikatnya adalah sebaliknya.

2. Di antara bukti yang menunjukkan tidak ada peranan Yazid dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala, bahkan golongan Syiahlah yang bertanggungjawab membunuh beliau bersama dengan ramai orang-orang yang ikut serta di dalam rombongan itu, ialah adanya hubungan persemendaan di antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, selepas berlakunya peperangan Siffin dan juga selepas berlakunya peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala.

Tidak mungkin orang-orang yang bermaruah seperti kalangan Ahlul Bait akan berkahwin dengan orang-orang yang diketahui oleh mereka sebagai pembunuh-pembunuh atau orang-orang yang bertanggungjawab di dalam membunuh ayah, datuk atau bapa saudara mereka Sayyidina Husain. Hubungan ini selain daripada menunjukkan pemerintah-pemerintah dari kalangan Bani Muawiyah dan Yazid sebagai orang yang tidak bersalah di dalam pembunuhan ini, ia juga menunjukkan mereka adalah golongan yang banyak berbudi kepada Ahlul Bait dan sentiasa menjalinkan ikatan kasih sayang di antara mereka dan Ahlul Bait.

Di antara contoh hubungan persemendaan ini ialah:

(1) Anak perempuan Sayyidina Ali sendiri bernama Ramlah telah berkahwin dengan anak Marwan bin Al-Hakam yang bernama Muawiyah iaitu saudara kepada Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan. (Ibn Hazm-Jamharatu Al Ansab, m.s. 80)

(2) Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali berkahwin dengan Amirul Mukminin Abdul
Malik sendiri iaitu khalifah yang ke empat daripada kerajaan Bani Umaiyah. (Al Bidayah Wa An Nihayah, jilid 9 m.s. 69)

(3) Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali iaitu Khadijah berkahwin dengan anak gabenor 'Amir bin Kuraiz dari Bani Umaiyah bernama Abdul Rahman. (Jamharatu An Ansab, m.s. 68). 'Amir bin Kuraiz adalah gabenor bagi pihak Muawiyah di Basrah dan dalam peperangan Jamal dia berada di pihak lawan Sayyidina Ali.

Cucu Sayyidina Hasan pula bukan seorang dua yang telah berkahwin dengan pemimpin-pemimpin kerajaan Bani Umaiyah bahkan sejarah telah mencatatkan 6 orang daripada cucu beliau telah berkahwin dengan mereka iaitu:-

1.Nafisah bt Zaid bin Hasan berkahwin dengan Amirul Mukminin Al Walid bin Abdul Malik bin Marwan.

2.Zainab bt Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali juga telah berkahwin dengan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik. Zainab ini adalah di antara orang yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah dan dia adalah salah seorang yang menyaksikan peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala dengan mata kepalanya sendiri.

3.Ummu Qasim bt Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali berkahwin dengan cucu Sayyidina Uthman iaitu Marwan bin Aban. Ummu Qasim ini selepas kematian suaminya Marwan berkahwin pula dengan Ali Zainal Abidin bin Al Husain.

4.Cucu perempuan Sayyidina Hasan yang keempat telah berkahwin dengan anak kepada Marwan bin Al-Hakam iaitu Muawiyah.

5.Cucu Sayyidina Hasan yang kelima bernama Hammaadah bt Hasan Al Mutsanna berkahwin dengan anak saudara Amirul Mukminin Marwan bin Al Hakam iaitu Ismail bin Abdul Malik.

6.Cucu Sayyidina Hasan yang keenam bernama Khadijah bt Husain bin Hasan bin Ali juga pernah berkahwin dengan Ismail bin Abdul Malik yang tersebut tadi sebelum sepupunya Hammaadah.

Perlu diingat bahawa semua mereka yang tersebut ada meninggalkan zuriat.
Dari kalangan anak cucu Sayyidina Husain pula ramai yang telah menjalinkan perkahwinan dengan individu-individu dari keluarga Bani Umaiyah, antaranya ialah:-

(1) Anak perempuan Sayyidina Husain yang terkenal bernama Sakinah. Selepas beberapa lama terbunuh suaminya Mus'ab bin Zubair, beliau telah berkahwin dengan cucu Amirul Mukminin Marwan iaitu Al Asbagh bin Abdul Aziz bin Marwan. Asbagh ini adalah saudara kepada Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz sedangkan isteri Asbagh yang kedua ialah anak kepada Amirul Mukminin Yazid iaitu Ummu Yazid. (Jamharatu Al -Ansab)

(2) Sakinah anak Sayyidina Husain yang tersebut tadi pernah juga berkahwin dengan cucu Sayyidina Uthman yang bernama Zaid bin Amar bin Uthman.

Sementara anak cucu kepada saudara-saudara Sayyidina Husain iaitu Abbas bin Ali dan lain-lain juga telah mengadakan perhubungan persemendaan dengan keluarga Umaiyah. Di antaranya yang boleh disebutkan ialah:-

Cucu perempuan kepada saudara Sayyidina Husain iaitu Abbas bin Ali bernama Nafisah bt Ubaidillah bin Abbas bin Ali berkahwin dengan cucu Amirul Mukminin Yazid yang bernama Abdullah bin Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Datuk kepada Nafisah ini iaitu Abbas bin Ali adalah di antara orang yang ikut serta dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah. Beliau terbunuh dalam pertempuran di medan Karbala .

Sekiranya benar cerita yang diambil oleh ahli -ahli sejarah dari Abu Mukhnaf, Hisyam dan lain–lain tentang kezaliman Yazid di Karbala yang dikatakan telah memerintah supaya tidak dibenarkan setitik pun air walaupun kepada kanak–kanak yang ikut serta dalam rombongan Sayyidina Husain itu sehingga mereka mati kehausan apakah mungkin perkahwinan di antara cucu kepada Abbas ini berlaku dengan cucu Yazid. Apakah kekejaman–kekejaman yang tidak ada tolak bandingnya seperti yang digambarkan di dalam sejarah boleh dilupakan begitu mudah oleh anak – anak cucu orang–orang yang teraniaya di medan Karbala itu? Apa lagi jika dilihat kepada zaman berlakunya perkahwinan mereka ini, bukan lagi di zaman kekuasaan keluarga Yazid, bahkan yang berkuasa pada ketika itu ialah keluarga Marwan. Di sana tidak terdapat satu pun alasan untuk kita mengatakan perkahwinan itu berlaku secara kekerasan atau paksaan.

Perkahwinan mereka membuktikan kisah–kisah kezaliman yang dilakukan oleh tentera Yazid ke atas rombongan Sayyidina Husain itu cerita–cerita rekaan oleh Abu Mukhnaf, Al Kalbi dan anaknya Hisyam dan lain–lain.

Cucu perempuan kepada saudara Sayyidina Husain, Muhammad bin Ali (yang terkenal dengan Muhammad bin Hanafiyah) bernama Lubabah berkahwin dengan Said bin Abdullah bin Amr bin Said bin Al Ash bin Umaiyah. Ayah kepada Lubabah ini ialah Abu Hisyam Abdullah yang dipercayai sebagai imam oleh Syiah Kaisamyyah .


Demikianlah serba ringkasnya dikemukakan hubungan persemendaaan yang berlaku di antara Bani Umaiyyah dan Bani Hasyim terutamanya dari anak cucu Sayyidina Ali, Hasan dan Husain. Hubungan persemendaan di antara mereka sangat banyak terdapat di dalam kitab-kitab Ansab dan sejarah. Maklumat lebih lanjut boleh dirujuk dari kitab–kitab seperti Jamratu Al Ansab, Nasbu Quraisy, Al Bidayah Wa An Nihayah, Umdatu Al Thalib Fi Ansab Aal Abi Thalib dan lain–lain .
Read More...

Monday, October 18, 2010

Penularan Revolusi Fahaman Dajjal

Inilah yang dikatakan pegangan ahli sunnah yang yang menjadi prinsip pegangan serta ikutan yang jauh dari persimpangan aqidah sebenar serta tertolak dari syariat Islam. Namun ketaksuban dalam beragama serta diada-adakan sesuatu yang bukan daripada kehendak agama adalah sesuatu yang tertolak sebagaimana hadis Dari Aisyah r.a katanya: Rasullullah SAW bersabda:
"Brg siapa yg mengada2kan dlm pekerjaanku ini(dlm agama) apa yg tiada di dlmnya,maka ia ditolak, sahih bukhari no. 1250




Ketaksuban anak-anak muda ini telah menjadi sesuatu keraguan serta kegusaran kita apabila yang haq dan yang batil berada dalam satu kepompong yang bakal mengakibatkan bencana yang mampu merosakkan aqidah sekiranya perkara ini tidak dipandang serius oleh mereka-mereka yang bertanggungjawab. Penularan fahaman dajjal syiah ini telah menular masuk ke malaysia seperti cendawan mekar yang ditumbuh dini hari. Dimanakah kita yang sering memperjuangkan aqidah sunnah wal jamaah, yang menuduh orang itu ini wahabi?...ayuh bangunlah selamatkan generasi yang suci dari kekotoran fakta serta pegangan syariat sebenar berteraskan Al Quran dan Sunnah.

Perjuangan konspirasi dajjal ini telah mendapat tempat saban hari dimata masyarakat umat islam dengan revolusi islam yang telah dipandang oleh masyarakat dunia sebagai paksi yang mampu menzahirkan islam yang sebenar walhal mereka inilah dajjal sebelum timbulnya dajjal yang akan menyesatkan lagi tersesat kelak. kelantangan penulis-penulis dajjal syiah ini telah mendapat tempat dengan karya yang tidak bertepatan dengan sumber rujukan asal agama iaitu AlQuran dan Sunnah.



Ayuh bangunlah selamatkanlah diri kita serta seluruh umat yang hari ini mencari agama sebenar demi tujuan hidup yang kekal abadi di kampung akhirat kelak. wallhualam.

Setiap perkataan yang terbaik adalah kalamullah dan setiap perbuatan adalah mengikut cara Nabi Muhammad SAW dan setiap apa yang diadakan -adakan itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan itu adalah neraka. (Bukhari,Nasaei)

AbuHusna
Read More...

Wednesday, September 8, 2010

PENGERTIAN SEBENAR HARI RAYA

Hariraya adalah hari yang dikhususkan kepada kita untuk bergembira bahkan perkataan Eid itu sendiri membawa makna kegembiraan, bukannya untuk bersedih. Ini jelas setelah berjuang selama sebulan menahan lapar dan dahaga, ketibaan Eidul fitri adalah merupakan kemenangan bagi umat islam serta digalakkan seluruh umat Islam meraikan dengan gembiranya.Banyak perkara jika hendak disebutkan mengenai hari raya, namun dalam ruang yang terbatas ini penulis menggariskan beberapa panduan serta sunnah pada hari raya yang bakal menjelma. InshaAllah.


1. Hari raya adalah hari membesarkan Allah dan bersyukur atas kurniaanNya. Kita bertakbir tanda kemenangan, bukan tanda kesedihan. Irama takbir ala melayu agak sedih. Jika kita dengar takbir yang dilaung di dunia Islam yang lain, khususnya di dunia Arab, kita akan tahu irama takbir mereka lebih bersemangat dan lebih mendekati perasaan kemenangan. Firman Allah dalam [Surah al-Baqarah: 185]

“..dan juga supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan), dan supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat petunjukNya, dan supaya kamu bersyukur”.

Ayat ini menjelaskan tentang kedatangan hari raya sebagai tanda syukur atas nikmat kurniaan Allah. Maka kita disuruh bertakbir membesarkan Allah pada hari raya. Ini semua menzahirkan kejayaan dan kegembiraan.

2. Hari raya bukan hari menzahirkan suasana sedih, sebaliknya hari raya menzahirkan suasana kekuatan, kegembiraan dan perpaduan umat Islam. Kata Ummu Atiyyah r.aha:

“Rasulullah s.a.w memerintahkan kami (kaum wanita) keluar pada hari raya fitri dan adha; termasuk para gadis, wanita haid, anak dara sunti. Adapun mereka yang haid tidak menunaikan solat tetapi menyertai kebaikan dan seruan kaum muslimin” (Riwayat al-Bukhari).

Suasana sebegini menimbulkan perpaduan, kekuatan dan kegembiraan. Wanita haid pun ke suruh untuk keluar ke tempat solat, sekalipun bukan untuk solat tetapi untuk menyertai suasana kemeriahan kaum muslimin.

3. Justeru itu, Nabi s.a.w bersolat di tempat lapang atau musolla (tempat solat). Baginda tidak bersolat di masjid baginda, sekalipun masjid Nabi sangat mulia. Ini bagi menzahirkan suasana gembira dan menggambarkan kepada masyarakat kekuatan umat Islam. Kata Abu Sa’id al-Khudri:

“Rasulullah s.a.w itu pada Hariraya Fitri dan Adha keluar ke musolla. Perkara pertama yang dilakukannya adalah solat” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Kata al-Hafizd Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari:

“Musollah itu tempatnya diketahui di Madinah, di mana antaranya dan masjid sejauh seribu hasta”.

Maka afdal solat di tempat lapang untuk lebih menzahir suasana tersebut. Melainkan tempat lapang sukar didapati, atau hujan atau memberikan kesusahan yang lain kepada orangramai. Al-Imam al-Nawawi (wafat 676H) ketika mensyarahkan hadis Nabi s.a.w bersolat di tempat lapang itu menyebut:

“Hadis ini menjadi dalil untuk mereka yang berpendapat disunatkan keluar bersolat hari raya di musolla. Ia lebih afdal dari ditunaikan di masjid. Inilah amalan orangramai di pelbagai negara. Adapun orang Mekah, mereka sejak dahulu bersolat di masjid (al-Masjid al-Haram)”. (al-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 6/483. Beirut: Dar al-Khair).

4. Betapa suasana kegembiraan digalakkan pada hari raya, maka Nabi s.a.w mengizinkan atau menggalakkan hiburan seperti nyanyian, pertunjukan dan sukaria yang lain selagi tidak melanggar syariat. Dalam hadis daripada isteri Rasulullah s.a.w Ummul Mukminin ‘Aishah r.aha:

bahawa pada hari raya Fitri atau Adha, Abu Bakr masuk ke rumahnya (rumah ‘Aishah) dan Nabi s.a.w berada di sisinya. Ketika itu ada dua orang gadis sedang menyanyi mengenai kebanggaan Ansar pada Hari Bu‘ath (peperangan antara Aus dan Khazraj). Abu Bakr berkata: “Suara syaitan” (sebanyak dua kali). Nabi s.a.w bersabda: “Biarkan mereka wahai Abu Bakr! Setiap kaum ada hari raya dan sesungguh hari ini adalah hari raya kita” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Muslim yang lain menyatakan mereka memukul gendang sebagai alatan muzik iringan nyanyian mereka. Banyak hadis lain menunjukkan keizinan atau galakan hiburan pada hari-hari kegembiraan seperti hari raya, hari perkahwinan dan seumpamanya. Maka, dendangan lagu hari raya yang menimbulkan suasana kegembiraan adalah digalakkan. Adapun lagu-lagu yang menimbulkan kesedihan ia bertentangan dengan konsep hari raya dalam Islam.

5. Kata Ummul Mukminin ‘Aishah r.ha.

“Pada hari raya orang Sudan membuat pertunjukan permainan perisai dan lembing. Aku tidak pasti sama ada aku yang meminta, atau baginda yang berkata: “Apakah engkau ingin menontonnya?” Jawabku: “Ya”. Lalu baginda menjadikan aku berada belakangnya, pipiku menyentuh pipinya sambil baginda berkata: “Teruskan wahai Bani Arfidah (orang-orang Sudan)”. Sehinggalah aku jemu. Kemudian baginda berkata kepadaku: “Sudah cukupkah (jemukah)?”. Jawabku: “Ya”. Kata baginda: “Kalau begitu, pergilah”. (Riwayat al-Bukhari).

Hadis ini menunjukkan apa-apa pertunjukan, permainan atau gurau senda yang tidak melanggar syariat adalah digalakkan pada hari raya. Bukan satu kecacatan untuk orang yang kuat agama menyertainya, kerana Nabi s.a.w sendiri menonton pertunjukan pada hari raya.

6. Maka, jika berdasarkan kepada hadis-hadis di atas, hiburan kanak-kanak atau dewasa pada hari raya seperti permainan bunga api atau selainnya adalah tidak menyalahi syariat, bahkan digalakkan jika dapat menimbulkan kegembiraan. Begitu juga jamuan pada hari raya, duit raya, hadiah raya dan apa sahaja yang boleh menimbulkan suasana gembira. Namun kesemuanya hendaklah dipastikan dengan kadarnya yang tidak melampaui hukum-hakam syarak.

7. Menziarahi kubur itu pada asalnya disunatkan pada bila-bila masa bagi mengingatkan kita pada hari akhirat. Sabda Nabi s.a.w:

“Aku dahulu melarang kamu menziarahi kubur, namun ziarahi sekarang kerana ia boleh mengingatkan kamu pada hari akhirat” (Riwayat Muslim).

Pada peringkat awal Nabi s.a.w melarang kerana bimbang kesan jahiliah dahulu masih mempengaruhi masyarakat. Apabila kefahaman Islam sudah kukuh, baginda mengizinkan kerana ia membantu mengingatkan hari akhirat. Ertinya, jika sesiapa yang apabila ke kubur akan terpengaruh dengan amalan khurafat, maka mereka ia sepatutnya mengelakkan diri dari menziarahi kubur. Jika ia menyebabkan mengingatkan hari akhirat, maka ia digalakkan.

8. Walaupun menziarahi kubur itu pada asalnya sunat, namun baginda Nabi s.a.w tidak pernah mengkhususkan supaya diziarahi khubur pada hari raya. Perbuatan mengkhususkan hari raya sebagai hari ziarah kubur tidak bersumberkan dari ajaran Nabi s.a.w. Apatahlagi dengan pelbagai upacara yang menyanggahi sunnah Nabi s.a.w yang diadakan oleh sesetengah masyarakat di kubur pada hari raya. Bahkan, jika kita melihat kepada konsep hari raya yang diterangkan, maka perbuatan bersedihan di kubur adalah menyanggahi tujuan hari raya.

9. Pada hariraya disunatkan mandi, berwangian, berpakaian cantik dan berjumpa orang ramai. Dalam hadis Jabir r.a berkata:

“Rasulullah pada hari raya mengambil jalan yang berbeza” (Riwayat al-Bukhari).

Maksudnya, jalan pergi ke tempat dan pulang yang berbeza. Kemungkinan antara hikmahnya untuk berjumpa orang ramai. Maka, berjumpa orang ramai pada hari raya adalah digalakkan dan itu patut menjadi tumpuan, bukan pergi menemui yang telah meninggal dan bersedih di kubur.

10. Pertemuan pada hariraya bukan untuk mencurahkan airmata, tetapi untuk mengucapkan ucapan kejayaan. Para sahabah apabila bertemu pada hari raya mengucapkan TaqabbalaLLah minna wa minka (semoga Allah menerima amalan kami dan kamu)” (lihat: al-Albani, Tamam al-Minnah 354-356). Ucapan-ucapan lain tidak salah selagi mengandungi maksud yang baik dan bukan membawa kepada kesedihan dan kedukaan.

Maka, jadikanlah hariraya sebagai hari kegembiraan dan kesyukuran, bukan hari kesedihan.

Tinta,
Abu Husna
Artikel asal Dr.Maza

Read More...

Thursday, August 5, 2010

Perlunya ilmu dalam setiap keputusan.

Jauh perjalanan merentasi Laut China Selatan telah hampir ke kemuncaknya apabila kembara ilmu pada kali ini benar-benar terlalu puas rasa hati bukan hanya dapat menyampaikan ilmu, bahkan dapat berkongsi ilmu serta bertemu dengan sahabat-sahabat baru dan lama yang sama-sama berjuang demi menghasilkan sebuah penyelidikan yang berkualiti. Bumi Sarawak pada kali ini dikunjungi pelbagai warga manusia dari seluruh pelusuk bumi antaranya Sudan, Pakistan, Bangladesh, Iraq, Russia, tidak ketinggalan Iran serta beberapa buah Negara dunia yang lain dalam World Engineering Congress 2010.

Penulis hanyalah seorang yang kerdil menjejakan kaki ke bumi Sarawak untuk kali yang pertama demi mencapai matlamat seorang penyelidik (Paper publications) serta ingin meluaskan pandangan serta ilmu yang Allah SWT kurniakan kepada setiap hamba-hambaNya. Selain kemanisan dalam “berconference” buat kali keduanya penulis dapat menaiki kapal terbang yang telah ditempah oleh pihak university, Alhamdulillah.




Sebenarnya apa yang bermain diminda penulis ialah bukan hanya ilmu penyelidikan fardhu kifayah ini bahkan sepatutnya kita sbg hambaNya mesti juga memikirkan kearah perkara yang membelenggu umat Islam pada hari ini. Tidak benar sama sekali jika kekhilafan menjadikan kita seluruh umat islam berpecah belah. Sebaliknya perpecahan ini berlaku jika hanya aqidah yang terpesong daripada pegangan dengan ahli sunnah wal jamaah sebagaimana yang di firmankan oleh Allah SWT di dalam Al-Quran serta wahyu yang diberikan oleh RasulNya Muhammad SAW iaitulah Al Hadis menjadi rujukan yang tertinggi . Tidak!, dengan mengatakan seseorang itu tidak berqunut subuh sebagai dia tidak betul dan sesat. Selain dengan menuduh orang yang berbeza pendapat dengan kita dengan gelaran wahabi, sebaliknya dengan perbezaan pendapat itu akan melahirkan kemanisan dalam berfikir serta mencetuskan intelektual dikalangan umat masyarakat Islam.

Kata al-Imam al-Zahabi (meninggal 748H) juga:
“Setiap orang boleh diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah SAW. Namun jika seseorang imam itu tersilap dalam ijtihadnya, tidak wajar untuk kita melupai kebaikan-kebaikannya dan menutup amalan-amalan makrufnya. Bahkan kita beristighfar untuknya dan memaafkannya” (Al-Zahabi, Siyar A’lam al-Nubala, 18/157).

Apakah mungkin benar jika penulis katakan bahawa dunia yang tanpa sempadan hari ini dengan maklumat yang berada dihujung jari, kita mampu beralih kearah dunia teknologi yang hebat seiring dengan pemikiran kita yang hebat bersamaan dengan menongkah arus teknologi perubahan. Sebaliknya agama perlu dan semestinya menjadikan Al-Quran serta Hadis setinggi rujukan bukan agama yang lahir dari pemikiran teknologi maju yang canggih ini.

Ini kita dapat lihat hasil dari suku sakat kaum yakjuj wa makjuj yang telah menembusi tembok halangan yang dibina oleh zulkarnian sebagaimana yang Allah SWT telah rekodkan dalam firmanNya didalam Al Quran didalam surah Al Kahfi ayat 96 (guna tafsir sendiri). Apabila suku sakat ini menggunakan akal mereka untuk menolak kepercayaan meraka bahawa kewujudan Tuhan yang menjadikan seluruh alam ini. Nauzubillah..

Dengan kejayaan teknologi yang banyak dihasilkan oleh barat, maka menjadikan mereka ini sebagai makhluk atau umat manusia yang angkuh serta mendabik dada bahawa merekalah yang berkuasa di bumi ini dan bukan Tuhan, hingga mereka bertanya dengan sinis: Dimana Tuhan? Kerana sudah berjaya meneroka angkasa lepas mereka masih belum menemui Tuhan di sana.

Ada pernyataan yang tidak jelas dalam hadis2 berkaitan makhluk perosak ini, penulis dahulu kala dalam kitab-kitab mereka menyatakan berkaitan makhluk perosak ini dengan:

Ditengah keganasan yang sedang mereka lakukan itu, mereka akan menembak anak panah kelangit dengan tujuan membunuh Allah. Untuk mengelirukan mereka Allah pun menyuruh malaikat meyapukan darah dimata panah itu supaya mereka menyangka bahawa mereka mereka benar-benar telah berjaya membunuh Allah.

Pengertian kenyataan diatas mereka mengkufurkan Tuhan 100 peratus.dalam iktikad mereka. Contoh sikap ini telah meluas serta begitu ketara di Negara-negara komunis khususnya Russia, hingga ketika angkasawan pertama mereka berjaya ditembak ke angkasa lepas dan dia melaporkan kebumi bahawa disana pun dia tidak dapat menemui Tuhan. Lalu org-org Russia menampalkan poster yang ditampal di tembok Kremlin, melukis seorang buruh Russia menendang Tuhan hingga Tuhan tercampak ke luar dari angkasa. Malah seorang dari angkasawan mereka dalam satu forum mengenai atheisme (Klik Disini).bernama Gherman Titov, (Klik Disini) mencadangkan supaya diadakan eksperimen anti agama diangkasa lepas. Menurutnya, dengan kejayaan kita meneroka kosmos lebih jauh hingga ke pedalamannya, kita boleh membuktikan bahawa tidak ada tempat bagi Tuhan dilangit dan dibumi.


Sikap anti agama ini telah menular dikalangan orang-orang Eropah sehingga hidup dalam kebebasan dari “kongkongan”agama. Batas dan tatasusila agama telah ditolak sama sekali hinggakan perzinaan menjadi berleluasa serta fikiran mereka yg “maju” itu telah menganggap perkahwinan tidak perlu lagi.

Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang, membiarkan mereka berbuat demikian, kerosakkan demi kerosakkan, kemungkaran demi kemungkaran sepuas nafsu mereka. Dan apabila telah tiba dan Allah menghendakinya nescaya pasti dan pasti Allah SWT akan melakukan Sunnah-Nya dengan mengirim “ Kuman yang akan memakan daging di tubuh mereka” (p/s: InshaAllah, akan dijelaskan nanti)

Alhamdulillah, setiap apa yang berlaku itu pasti dalam pengetahuan Allah SWT serta kita sebagai hambaNya haruslah sentiasa berfikir, bersatu serta berwaspada dari setiap perbuatan yang diada-adakan serta mengawasi diri dalalm setiap iktikad, perkuatkan diri kita dengan ilmu serta pemantapan aqidah yang bertunjangkan Al-quran dan Sunnah Nabi SAW.

Sebagai renungan Firman Allah SWT (Surah al-Baqarah ayat 114).
“Dan siapakah yang lebih zalim dari mereka yang menghalangi masjid-masjid Allah untuk disebutkan nama Allah di dalamnya, dan dia berusaha pula untuk meruntuhkan masjid-masjid itu? Mereka yang demikian, tidak sepatutnya masuk ke dalam masjid-masjid itu melainkan dalam keadaan mereka yang takutkan Allah. Mereka (dengan perbuatan itu) akan beroleh kehinaan di dunia, dan di akhirat kelak mereka mendapat azab seksa yang amat besar”.


Abu Husna
Kuching, Sarawak
05082010
Read More...

Wednesday, July 28, 2010

Bid'ah Hasanah istilah yang disalah fahami - Dr.MAZA

Segala kebaikan itu ialah mengikut salaf, segala keburukan itu ialah bidah golongan selepas mereka, dan setiap yang diadakan-adakan itu bidah, dan setiap yang bidah itu sesat dan setiap yang sesat itu dalam neraka” (Dr. Yusuf al-Qaradawi, Fatawa Mu`asarah, 1/382-383, Beirut: Dar Uli al-Nuha, Beirut).




Wallahualam.
AbuHusna, 2010
Read More...
Related Posts with Thumbnails
 
Related Posts with Thumbnails